ABNnews – Langkah besar diambil Indonesia untuk menyulap industri perkapalan dalam negeri menjadi raksasa maritim di kawasan ASEAN.
Ambisi ini diwujudkan lewat penguatan penjajakan kerja sama strategis dengan Rusia dalam forum Building an Indonesia–Russia Shipbuilding Partnership: Developing Maritime Industrial Cooperation for Indonesia, Russia and the ASEAN Market di ajang INNOPROM 2026, Yekaterinburg, Rusia.
Forum yang digelar di Indonesia Pavilion ini menjadi wadah krusial bagi para pelaku industri kedua negara. Mereka berkumpul untuk menjajaki peluang investasi, alih teknologi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga produksi bersama guna mendongkrak daya saing maritim Indonesia.
“Kerja sama industri perkapalan dengan Rusia menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas industri maritim melalui investasi, alih teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan kolaborasi produksi,” ujar Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, Rabu (8/7/2026).
Menperin menegaskan, duet maut ini diharapkan bisa menggenjot taji industri perkapalan nasional sekaligus membuka lebar-lebar akses ke pasar ASEAN. Bagi Indonesia, kolaborasi dengan Rusia adalah langkah taktis untuk mempercepat lompatan kapasitas industri maritim domestik.
Dipandu oleh Sekretaris Ditjen ILMATE Kemenperin, Feby Setyo Hariyono, forum ini mempertemukan langsung asosiasi industri perkapalan dan komponen lokal dengan raksasa galangan kapal Rusia. Mereka duduk bersama membedah potensi kolaborasi bisnis dan transfer teknologi mutakhir.
Pertemuan di Rusia ini merupakan ketukan palu lanjutan dari kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) yang sudah diteken kedua negara pada Desember 2025 lalu. Komitmen tersebut menjadi fondasi utama dalam menggarap pembangunan kapal, teknologi maritim, rekayasa kelautan, hingga investasi.
Sebagai negara kepulauan raksasa dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memang sangat butuh suntikan armada kapal yang kuat.
Industri perkapalan yang maju sangat vital untuk menyokong distribusi logistik, transportasi antarpulau, sektor perikanan, energi lepas pantai, hingga pemerataan ekonomi nasional.
Bak gayung bersambut, Rusia punya segudang pengalaman panjang di bidang ini, mulai dari desain kapal niaga hingga teknologi sistem propulsi dan rekayasa maritim. Karakteristik inilah yang membuat kedua negara menjadi mitra yang saling melengkapi.
Peluang kolaborasi ini diprediksi makin mulus berkat adanya perjanjian perdagangan bebas Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Kesepakatan ini bakal mempercepat arus perdagangan, investasi, hingga pertukaran teknologi dengan negara-negara anggota EAEU.
Dalam ruang diskusi, kedua negara membedah proyeksi pembuatan berbagai jenis kapal. Mulai dari kapal penumpang, feri, logistik, kapal perikanan, kapal patroli, kapal pendukung lepas pantai, hingga pengembangan industri komponen kapal dan peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.
Direktur Jenderal KPAII Kemenperin, Tri Supondy, menyebut Indonesia punya pasar yang raksasa dan kapasitas yang terus berkembang, sementara Rusia memegang keunggulan teknologi. Jika digabungkan, duet ini bakal melahirkan industri perkapalan yang sangat kompetitif.
“Kami berharap forum ini menghasilkan kolaborasi konkret antarpelaku industri, mulai dari alih teknologi, pengembangan sumber daya manusia, investasi, hingga joint production yang dapat memperkuat industri perkapalan nasional dan memperluas akses ke pasar ASEAN,” tutur Tri.
Lewat ajang internasional ini, Indonesia kembali menegaskan taring diplomasinya di sektor maritim. Hubungan mutualisme dengan Rusia ini diharapkan melahirkan proyek nyata yang siap mempercepat transformasi teknologi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur maritim utama di Asia Tenggara.












