Ekonomi Loyo Mei-Juni, Menkeu Blak-blakan Alasan Pindahkan Uang Negara dari BI ke Bank Umum

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Kemenkeu)

ABNnews – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan mengungkap alasannya memindahkan dana pemerintah yang sebelumnya tersimpan di Bank Indonesia (BI) ke sistem perbankan umum.

Langkah berani ini sengaja dieksekusi ketika aktivitas ekonomi nasional sempat melambat atau loyo pada periode Mei dan Juni tahun ini.

Jurus memindahkan uang negara ke perbankan komersial ini diambil untuk mempertebal likuiditas bank. Dengan likuiditas yang melimpah, ruang bagi perbankan untuk menyalurkan kredit menjadi lebih longgar, sehingga diharapkan mampu menggerakkan kembali aktivitas ekonomi dan menopang pertumbuhan.

“Jadi saya taruh di perbankan Rp 400 triliun, itu akan memperkuat kondisi likuiditas perbankan sehingga mereka bisa memberikan kredit dan ekonominya bisa tumbuh lagi,” jelas Purbaya saat memberikan kuliah umum di Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN, Tangerang Selatan, Jumat (10/7/2026).

Purbaya menegaskan, pengelolaan kas negara kini bertransformasi menjadi salah satu instrumen utama pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mendampingi peran belanja negara dalam APBN.

Sebab, menurut Menkeu, porsi belanja pemerintah sebenarnya terhitung minim karena hanya berkontribusi sekitar 7 hingga 10 persen terhadap total aktivitas ekonomi nasional.

Sadar akan hal itu, kementeriannya mengembangkan pendekatan baru dengan mengoptimalkan manajemen kas agar mampu menyengat 90 persen sisa perekonomian yang dikuasai oleh sektor swasta.

“Saya perhatikan bahwa manajemen cash, manajemen uang pemerintah bisa memengaruhi ekonomi Indonesia secara signifikan. Itu bisa menghidupkan yang 90 persen ekonomi selain belanja langsung yang 7-10 persen,” ungkap Purbaya.

Lebih lanjut, Menkeu mengklaim bahwa penempatan dana jumbo ke bank umum ini turut meningkatkan base money (M0). Hasilnya, kebijakan ini mampu mendukung transmisi moneter tanpa sedikit pun mengusik independensi Bank Indonesia.

Ke depan, Purbaya memastikan kebijakan fiskal Indonesia tidak akan lagi kolot dengan hanya mengandalkan pos belanja negara untuk mendorong pertumbuhan. Optimalisasi manajemen kas akan menjadi senjata andalan agar likuiditas di sistem keuangan tetap kokoh dan aktivitas pasar terus bergerak kencang.

“Jadi fiskal ke depan bukan hanya belanja pemerintah saja. Anda nanti bisa memengaruhi ekonomi secara langsung dengan cash management yang lebih baik,” pungkasnya di hadapan para mahasiswa STAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *