banner 728x250

Kemenperin dan UNIDO Kolaborasi Garap Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Bareng Raksasa Tiongkok

Foto dok Kemenperin

ABNnews – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kian gencar memperkuat hilirisasi komoditas tambang di dalam negeri.

Kali ini, Kemenperin bersama United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) resmi menjalin kolaborasi strategis untuk menggarap pengembangan industri nikel yang berkelanjutan dengan menggandeng raksasa industri asal Tiongkok, Tsingshan Holding Group.

Langkah ini diambil guna mendukung program hilirisasi industri mineral sekaligus mendongkrak nilai tambah sumber daya alam (SDA) domestik dengan tetap memegang teguh aspek keberlanjutan serta efisiensi penggunaan energi.

Sinergi panas ini menjadi salah satu topik krusial dalam pertemuan bilateral antara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Deputy to the Director General and Managing Director UNIDO Zou Ciyong di Jakarta.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari dialog yang sebelumnya dilakukan oleh Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Tri Supondy dengan Zou Ciyong pada ajang BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026 di Xiamen, Tiongkok.

“Kemitraan dengan organisasi internasional dan negara sahabat perlu terus diperkuat untuk mendukung transformasi industri Indonesia yang inovatif, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan daya saing nasional di tengah dinamika ekonomi dunia,” tegas Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita beberapa waktu lalu.

Selain urusan nikel, babak baru kemitraan ini juga membuka peluang investasi dan transfer teknologi yang lebih luas pasca-bergabungnya Indonesia ke dalam blok ekonomi BRICS. Kemenperin dan UNIDO menguliti peluang kerja sama dalam BRICS Center for Industrial Competence (BCIC).

Inisiatif ini dinilai menjadi momentum emas yang dapat membantu mendongkrak kompetensi sumber daya manusia (SDM) industri nasional, mempercepat implementasi teknologi manufaktur digital, serta membuka lebar keran kolaborasi inovasi dengan negara-negara berkembang lainnya.

Mengenai hubungan bilateral ini, Dirjen KPAII Tri Supondy ikut mengamini betapa vitalnya peran UNIDO sebagai jembatan transformasi manufaktur tanah air sejak tahun 2009.

“Indonesia memandang UNIDO sebagai mitra penting dalam mendukung transformasi industri yang inklusif dan berkelanjutan. Kami berharap berbagai inisiatif yang dibahas dalam forum BRICS PartNIR dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan industri nasional,” tutur Tri.

Nyatanya, diplomasi industri hijau ini tidak mandek di atas kertas. Salah satu program konkret yang kini tengah dikebut bersama adalah pembentukan Eco-Industrial Park (EIP) Center yang bertempat di Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0).

Pusat digitalisasi ini dirancang khusus sebagai motor penggerak untuk merombak kawasan-kawasan industri di Indonesia agar menjadi jauh lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan menuju era modern.

Saat ini, Kemenperin dan UNIDO bahkan sudah menerjunkan tim teknis khusus untuk mematangkan aspek operasional agar pusat tersebut bisa segera tancap gas dalam waktu dekat.

Kedua belah pihak juga terus mendorong akselerasi penyusunan Programme for Country Partnership (PCP) sebagai payung hukum yang diharapkan mampu memperluas kepakan sayap kolaborasi Indonesia dan UNIDO di berbagai sektor manufaktur lainnya.

Melalui pertemuan berkala di Jakarta ini, Indonesia dan UNIDO kembali mengunci komitmen jangka panjang mereka. Ujung dari kolaborasi spartan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak investasi segar masuk ke tanah air, memperluas akses penguasaan teknologi mutakhir, serta mempercepat terwujudnya industri nasional yang tangguh dan disegani di pasar global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *