banner 728x250

Heboh MBG Butuh 19 Ribu Sapi Sehari, Kepala Badan Gizi: Itu Cuma Pengandaian!

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. (Foto: istimewa)

ABNnews – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, akhirnya buka suara meluruskan isu terkait kebutuhan 19.000 ekor sapi per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dadan menegaskan, angka fantastis tersebut bukanlah kebutuhan riil harian, melainkan sekadar pengandaian.

Dadan menjelaskan, angka tersebut muncul dari simulasi perhitungan jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia secara serentak memasak menu daging sapi pada hari yang sama.

“Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” ujar Dadan dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).

Dadan memaparkan, untuk satu kali proses memasak dengan menu daging sapi, satu SPPG membutuhkan daging sekitar 350 hingga 382 kilogram. Jumlah tersebut setara dengan satu ekor sapi.

Karena BGN tidak menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional, maka kebutuhan sapi tidak akan mencapai angka 19.000 ekor setiap harinya. Langkah ini diambil justru untuk menjaga stabilitas harga pangan di pasar.

Dadan berkaca pada pengalaman saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu. Saat itu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

Akibat permintaan yang melonjak tajam dalam satu waktu, harga telur sempat terdampak. “Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,” ungkap Dadan.

Belajar dari kejadian tersebut, BGN kini lebih memilih untuk bersikap fleksibel dalam penyusunan menu MBG. BGN akan menyesuaikan dengan potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah agar tidak terjadi lonjakan permintaan yang ekstrem.

“Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *