banner 728x250

Gerebek Markas Scammer Rp 41 Miliar di Sukoharjo, Polisi Amankan Eks Artis Bertato

F, mantan artis yang jadi model dalam komplotan scammer jaringan internasional bermarkas di Solo Baru, Sukoharjo. Diunggah Senin (1/6/2026). Foto: Dok. Polda Jateng

ABNnews – Direktorat Reserse Siber (Ditressiber) Polda Jawa Tengah (Jateng) berhasil menggerebek markas komplotan penipu daring (online scamming) jaringan internasional yang beroperasi di Solo Baru, Sukoharjo.

Dari penggerebekan sindikat yang meraup untung hingga Rp 41,1 miliar tersebut, polisi mengamankan seorang wanita mantan artis berinisial F yang nekat beralih profesi menjadi bagian dari komplotan penipu.

Dalam jaringan ini, eks artis bertato tersebut diketahui memegang peran yang sangat krusial. F bertindak sebagai model video call yang bertugas meyakinkan dan memperdaya para korban ketika mereka mulai ragu untuk menyetorkan uangnya.

Direktur Reserse Siber Polda Jateng Kombes Himawan Susanto Saragih membeberkan, dalam melancarkan aksinya, tim marketing dari jaringan scammer ini awalnya bertugas sebagai garda terdepan untuk mencari dan menggaet calon korban.

“Marketing itu mendapat korban. Apabila di dalam pendalaman mereka si korban butuh keyakinan, maka yang tampil adalah bukan marketing, tapi model. Karena marketing ini ingin supaya korban segera melakukan investasi yang sudah ada, yang sudah ditawarkan,” kata Himawan dalam konferensi pers di Mapolda Jateng, Kota Semarang, Senin (1/6/2026).

“Jadi model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang dikehendaki korban,” tambahnya.

Meski begitu, Himawan enggan mengungkap identitas maupun rekam jejak keartisan sosok F secara mendetail kepada publik. “Kemudian untuk model dari kalangan apa? Yang jelas model dari mantan artis, itu aja,” tegasnya.

Berdasarkan foto yang ditampilkan dalam jumpa pers di Mapolda Jateng, tersangka F terlihat memiliki ciri fisik dengan tinggi badan sekitar 170 sentimeter, berkulit putih, serta memiliki beberapa rajatan tato yang mencolok di bagian tangan dan lehernya.

Mengingat skala penipuan ini mencakup jaringan lintas negara, Polda Jateng tidak bergerak sendirian. Pihak kepolisian resmi berkolaborasi dengan biro investigasi federal Amerika Serikat, Federal Bureau of Investigation (FBI), karena mayoritas korban dari sindikat ini merupakan warga negara Amerika Serikat (AS).

“Dalam kasus ini pelaku menargetkan warga negara Amerika Serikat sehingga di dalam proses penyidikan kami bekerja sama dengan FBI dan tentunya dalam koordinasi baik Divhubinter maupun Bareskrim,” jelas Himawan.

Melalui kerja sama dengan FBI, polisi berharap bisa mengumpulkan data dan informasi berkas pemeriksaan dari para korban di sana. Tercatat, ada sekitar 133 orang asing yang mayoritas warga AS telah menjadi korban tipu daya dari sindikat Solo Baru ini.

Selain menggandeng FBI, Polda Jateng juga menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aliran dana perbankan serta aset kripto (crypto) para pelaku, serta berkoordinasi dengan pihak Imigrasi guna memantau pengawasan orang asing.

Komplotan penipu terorganisir ini diketahui beroperasi di bawah bendera perusahaan fiktif bernama PT Digi Global Konsultan yang menyewa kantor operasional di kawasan Solo Baru, Sukoharjo. Kantor tersebut digunakan sebagai kedok perekrutan pekerja sekaligus operasional penipuan jarak jauh.

Sejak melancarkan aksinya dari Juli 2025 hingga Mei 2026, mereka sejatinya mengincar target hingga 5.000 orang. Lewat taktik pendekatan emosional menggunakan identitas palsu dan akun media sosial fiktif, mereka sukses mengelabui 133 korban dan menguras dana hingga 2.327.625 USD atau setara dengan Rp 41,1 miliar.

Terkait modus operandi yang menggunakan mata uang digital, Kombes Himawan mengungkapkan bahwa para pelaku sengaja memilih instrumen kripto karena dinilai paling mudah untuk menarik minat korban di era digital saat ini.

“(Mengapa menggunakan crypto) Ya, karena tentunya mereka sudah mempersiapkan website yang dimodif secara ringkas. Mereka sudah membuat, mendesain sedemikian rupa sehingga korban itu tertarik tentunya dengan keuntungan yang lebih besar. Dan mata uang yang paling gampang adalah crypto,” pungkas Himawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *