Gandeng Prancis Hingga Airbus, Ditjen Hubud Perkuat Keselamatan Penerbangan RI Hadapi Audit ICAO 2027!

Perhelatan 11th Steering Committee Meeting Kerja Sama Teknis Penerbangan Sipil antara Ditjen Hubud dan Direction Générale de l'Aviation Civile (DGAC) Prancis yang digelar di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

ABNnews – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan terus menggenjot penguatan keselamatan penerbangan sipil Indonesia.

Langkah ini diwujudkan melalui perhelatan 11th Steering Committee Meeting Kerja Sama Teknis Penerbangan Sipil antara Ditjen Hubud dan Direction Générale de l’Aviation Civile (DGAC) Prancis yang digelar di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Pertemuan strategis tersebut dihadiri langsung oleh perwakilan DGAC Prancis, jajaran pimpinan Airbus yang dipimpin Senior Vice President Airbus Aviation Safety Yannick Malinge, serta tim teknis kedua negara. Forum ini menjadi momentum krusial bagi Indonesia dalam mempersiapkan diri menghadapi audit ICAO USOAP yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 mendatang.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas komitmen berkelanjutan dari pihak Prancis dan Airbus yang konsisten mendampingi Indonesia sejak kesepakatan Technical Cooperation Agreement (TCA) ditandatangani pada 2019.

“Keberhasilan kerja sama teknis ini bukan dilihat dari seberapa banyak pertemuan, misi, lokakarya, atau pelatihan yang sudah dijalankan, tapi dari sejauh mana hal itu benar-benar meningkatkan kapasitas safety oversight kita, dan sejauh mana peningkatan itu bisa kita jaga ke depannya,” ujar Lukman.

Lukman menjelaskan, memasuki tahun 2026, kemitraan penerbangan ini bertransformasi ke fase baru dengan fokus utama membangun Sustainable Oversight System.

Meski audit ICAO USOAP 2027 menjadi target dekat, Lukman menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga safety oversight tidak boleh berhenti hanya sampai audit selesai.

Sejumlah area teknis prioritas yang tengah digarap bersama mencakup Specific Approvals dengan fokus pada Low Visibility Operations, SMS Assessment, Risk Assessment, Personnel Licensing Examination Process, hingga pengembangan State Safety Programme.

Meski demikian, Lukman tidak menampik masih adanya sejumlah tantangan internal, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kapasitas pelatihan inspektur, serta perlunya koordinasi yang lebih solid antarunit teknis.

“Lewat kerja sama ini, kami berharap kedua otoritas penerbangan sipil bisa terus saling berbagi pengalaman dan keahlian, sehingga kapasitas safety oversight kita semakin kompeten, terstandardisasi, berbasis risiko, terkoordinasi, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Senada dengan Lukman, Asia Pacific Cooperation Director DGAC France Thibaut Lallemand turut menyambut positif perkembangan signifikan dari hasil kolaborasi ini. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan audit internasional hanyalah salah satu batu pijakan, sementara kunci utamanya adalah membangun kapasitas kelembagaan yang mandiri dan konsisten.

“Kegiatan-kegiatan ini penting karena langsung berkontribusi pada penguatan kapasitas safety oversight Indonesia,” kata Thibaut.

Thibaut menegaskan bahwa dukungan keahlian dan fasilitas dari mitra internasional seperti Prancis dan Airbus sifatnya memperkuat, sedangkan kepemilikan penuh (ownership) atas keselamatan udara Indonesia tetap berada di tangan Ditjen Hubud.

“Pengetahuan harus menjadi kompetensi. Kompetensi harus menjadi kebiasaan kerja yang konsisten. Dan kebiasaan kerja yang konsisten itu yang akan menjadi kapasitas kelembagaan yang bertahan lama. Itulah hasil yang harus kita capai bersama,” pungkas Thibaut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *