ABNnews – Sosok mantan pelatih sekaligus pengurus Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia (Perbakin) Surabaya berinisial JL akhirnya dipajang ke publik setelah resmi ditahan.
Bersamaan dengan itu, pihak kepolisian membongkar habis modus maut tersangka dalam melancarkan aksi pencabulan terhadap sang atlet yang baru berusia 15 tahun.
Penampakan perdana JL diperlihatkan lewat unggahan video di akun Instagram Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, @lutfhie.daily.
Dengan tangan terikat kabel ties dan mengenakan kaus lengan panjang abu-abu lengkap dengan masker, JL tampak dicecar langsung oleh Kapolrestabes.
Di hadapan petugas, JL mengakui posisinya sebagai pelatih menembak di Perbakin dan telah mengenal korban sejak tahun 2024.
Dari interogasi tersebut, terungkap adanya siasat ganjil berupa perbedaan perlakuan atau ‘hukuman’ yang diberikan pelaku jika korban melakukan kesalahan saat latihan.
Ironisnya, ketika atlet lain dihukum fisik secara wajar seperti push up atau lari saat performanya menurun, korban justru mendapatkan perlakuan tak senonoh dari tersangka.
“Kalau nembak gak stabil saya evaluasi kenapa ya jangan seperti anak-anak yang lainnya. Ya saya gelitik aja gini,” aku tersangka JL dalam rekaman video interogasi yang dilihat detikJatim, Kamis (25/6/2026).
Tak hanya digelitik, JL juga kerap membawa korban masuk ke dalam mobil dengan dalih melakukan evaluasi latihan. Meski bukti-bukti sudah mengarah kuat, pria dengan dua anak itu tetap bersikeras mengelak dan berdalih hanya tidak sengaja menyenggol area sensitif korban karena faktor kedekatan.
Aksi bejat JL bahkan berlanjut hingga ke kamar hotel. Tersangka sempat membantah tuduhan pencabulan berat saat check-in bersama korban dan mengklaim hanya memberikan pelukan biasa.
“Di hotel kita duduk bersebelahan saya peluk saya cium cium kening terus sudah kita pulang,” kilih JL mencoba membela diri.
Namun, jurus berkelit tersangka langsung diskakmat oleh Kasubnit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Landep Tri Wulansari.
Berdasarkan keterangan penuntutan dan pengakuan korban, polisi membongkar bahwa pelaku nyatanya tega menelanjangi dan mencabuli korban di atas kasur.
“Anaknya sempat bertanya kenapa kok dibawa ke sini? (Tersangka berdalih) biar nanti leluasa ketika curhat ke tempat tidur,” tegas Iptu Wulan.
Kasus yang menyeret mantan petinggi cabor menembak Surabaya ini sebelumnya sempat menggegerkan publik. Pihak keluarga korban akhirnya berani bersuara dan membongkar borok tersembunyi yang dialami korban selama proses latihan hingga pendampingan kompetisi.
Akibat rentetan tindakan asusila sang pelatih, atlet muda potensial tersebut kini dilaporkan mengalami trauma psikologis yang sangat mendalam.
Korban dikabarkan terpukul hebat hingga enggan kembali menekuni olahraga menembak yang telah digelutinya secara serius selama dua tahun terakhir.












