ABNnews – Pihak MTs NU Mranggen akhirnya menyampaikan permohonan maaf terkait acara Gebyar Muharram ke-16 di halaman sekolah yang dinilai tak etis dan menuai sorotan negatif.
Kegaduhan ini dipicu oleh viralnya video penampilan penari perempuan berpakaian minim dan rok mini dalam sebuah grup drumband yang tampil di acara menyambut tahun baru Islam tersebut.
“Karena itu sudah terlanjur viral dan mungkin menjadi ramai, kita mohon maaf atas kegaduhan ini dan akan menjadi introspeksi bagi kita untuk di event-event selanjutnya,” ujar Kepala MTs NU Mranggen, Muhamad Abdul Kodir, dikutip detikJateng, Rabu (24/6/2026).
Video viral yang merekam aksi joget penari berrok mini warna biru muda dan berbaju putih lengan panjang itu awalnya diunggah oleh akun Instagram @beritasemaranghariini.
Dalam potongan video yang beredar, pakaian dalam penari tersebut bahkan sempat tampak tersingkap hingga memancing kritikan tajam netizen karena dianggap tidak sejalan dengan identitas dan nilai lembaga pendidikan Islam.
Abdul Kodir menjelaskan, acara Gebyar Muharram tersebut sejatinya telah berlangsung pada Selasa (16/6) lalu di halaman kompleks sekolah MTs-MA NU Mranggen, Kabupaten Demak.
Menurutnya, panitia awalnya mengalokasikan porsi kepesertaan untuk grup drumband kalangan pelajar. Namun, lantaran banyak grup drumband sekolah yang vakum alias mati suri, sisa kuota yang kosong akhirnya diberikan kepada kelompok umum dari masyarakat.
“Untuk drumband remaja itu cenderung istilahnya kayak mati suri ya. Kebetulan untuk yang porsi pelajar itu tidak terpenuhi karena banyak grup drumband yang vakum, sehingga porsi itu ya akhirnya diberikan kepada yang umum,” kata Kodir.
Dari total 26 grup drumband yang unjuk gigi memeriahkan acara, Kodir membeberkan bahwa delegasi pelajar hanya ada tiga kelompok, yakni satu dari MTs NU dan dua dari tingkat TK. Sementara itu, sisa peserta lainnya didominasi oleh kelompok umum.
Ia mengonfirmasi dan menjamin bahwa penari seksi yang viral di media sosial tersebut bukanlah siswanya, melainkan bagian dari kelompok umum.
“Yang viral itu bukan drumband pelajar, baik itu bukan pelajar dari MTs NU maupun pelajar dari luar, tapi itu notabene adalah tampilan dari drumband umum,” imbuh dia.
Kodir menegaskan panitia sebenarnya sudah melakukan langkah antisipasi ketat sejak awal. Baik dalam sesi pembukaan maupun saat technical meeting, seluruh peserta sudah diwanti-wanti untuk tetap menjaga etika kesopanan dan ketertiban.
“Nah, ternyata dalam tampilan ada yang seperti itu, kita ya istilahnya tidak menduga,” ungkap Kodir.
Pihak sekolah pun sangat menyayangkan insiden ini karena Gebyar Muharram di MTs NU Mranggen sebenarnya juga diisi oleh banyak kegiatan sakral dan positif, mulai dari mujahadah bersama hingga pemberian apresiasi hadiah motor bagi siswa yang sukses menghafal 30 juz Al-Qur’an.
Meski begitu, peristiwa ini akan dijadikan momentum bagi pihak sekolah untuk melakukan evaluasi dan pengetatan pengawasan ke depan agar marwah lembaga pendidikan dan nilai-nilai keagamaan tetap terjaga dengan baik.
“Dengan adanya kejadian seperti ini ya kita evaluasi. Kalau memang tampilan itu dianggap tidak pantas ya ayo kita bersama-sama untuk memperhatikan, sehingga drumband yang ada di lingkungan Mranggen dan sekitarnya bisa tampil lebih baik, lebih menjaga etika,” pungkasnya.












