banner 728x250

Kalahkan Tren Global, Industri Keramik Indonesia Kini Swasembada dan Bidik Pasar Dunia

Ilustrasi. (KOMPAS.com/Pramdia Arhando Julianto)

ABNnews – Industri keramik Indonesia sukses membalikkan keadaan dengan mencetak swasembada di tengah lesunya produksi global sejak tahun 2021.

Berbekal lompatan kapasitas yang masif dan kemandirian pasar domestik, sektor manufaktur andalan tanah air ini kini bersiap membidik target ekspansi yang lebih agresif di pasar dunia.

Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) membeberkan fakta bahwa tren pertumbuhan industri keramik dalam negeri justru bertolak belakang dengan kondisi global yang bertumbangan.

Indonesia mencatatkan lonjakan kapasitas produksi hingga 25 persen, dari 538 juta meter persegi pada 2021 menjadi 650 juta meter persegi per tahun.

“Ini menunjukkan tren yang berlawanan dengan industri keramik dunia yang mengalami penurunan produksi sejak 2021. Industri keramik Indonesia justru terus tumbuh dan memperkuat kapasitasnya,” ungkap Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, di sela-sela pameran Keramika Expo Indonesia ke-11 di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Kamis (4/6/2026).

Edy menegaskan, sekitar 95 persen produksi saat ini diserap penuh untuk memenuhi kebutuhan lokal, yang menandai era baru swasembada keramik nasional.

Sepanjang periode 2020 hingga 2029, total penambahan kapasitas diproyeksikan menembus 190 juta meter persegi.

Angka penambahan ini diklaim jauh melampaui rekor volume impor tertinggi RI pada tahun 2024 yang sempat menyentuh 78 juta meter persegi. “Artinya, industri keramik nasional saat ini mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik tanpa harus bergantung pada impor,” cetus Edy.

Rapor hijau di lini hilir ini sejalan dengan ambisi besar pemerintah. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza memaparkan, Indonesia saat ini sudah kokoh berdiri di jajaran lima besar produsen keramik dunia mendampingi Tiongkok, India, Brasil, dan Vietnam. Target berikutnya tak main-main, yakni menembus peringkat empat besar global.

“Kita optimistis Indonesia dapat masuk ke jajaran empat besar produsen keramik dunia,” ujar Faisol Riza saat membuka pameran tersebut.

Bukan tanpa alasan, optimisme itu disokong oleh tingkat utilisasi pabrik yang membaik signifikan ke level 73 persen dengan serapan tenaga kerja di atas 150 ribu orang.

Subsektor industri barang galian bukan logam ini pun melesat tumbuh 9,12 persen pada Triwulan I-2026, menjadikannya salah satu penopang utama pertumbuhan sektor manufaktur nasional.

Kemenperin mencatat sektor industri pengolahan secara umum masih menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi PDB mencapai 19,07 persen atau senilai Rp1.179,62 triliun pada Triwulan I-2026.

Selain itu, gairah usaha tecermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Mei 2026 yang ekspansif di level 50,0 serta Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang nanjak ke posisi 53,56.

Kendati kapasitas produksi melimpah ruah, Faisol menyayangkan tingkat konsumsi keramik masyarakat Indonesia yang tergolong masih seret.

Saat ini konsumsi domestik baru menyentuh 2,5 meter persegi per kapita, tertinggal dari rata-rata negara ASEAN yang berada di angka 3 hingga 3,5 meter persegi, serta Tiongkok dan Vietnam yang melesat di level 4 meter persegi.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pasar domestik masih sangat terbuka dan perlu terus dioptimalkan melalui inovasi produk, peningkatan kualitas, serta perluasan akses pasar,” tuturnya.

Untuk memproteksi sekaligus menggairahkan pasar lokal, pemerintah menerapkan strategi berlapis. Mulai dari insentif Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengetatan SNI wajib, instrumen safeguard serta Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD), hingga kewajiban belanja produk lokal ber-SNI pada proyek pemerintah dan BUMN lewat aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Ekspansi besar-besaran ini terbukti memberikan dampak domino yang instan bagi perekonomian nasional. Proyeksi penambahan kapasitas hingga mencapai 728 juta meter persegi pada 2029 mendatang diyakini bakal menguras investasi jumbo.

Edy Suyanto membeberkan bahwa gelombang ekspansi dari tahun 2020 hingga 2029 ini sukses menyerap total investasi bernilai fantastis, yakni lebih dari Rp 25 triliun. Tak hanya soal modal, proyeksi jangka panjang ini juga diklaim siap melahirkan lebih dari 20 ribu lapangan kerja baru.

Dengan rentetan proyek pabrik baru tersebut, total tenaga kerja yang menggantungkan hidup di sektor industri keramik nasional diperkirakan bakal membengkak hingga melampaui angka 175 ribu orang pada tahun 2029.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *