ABNnews – Dua tokoh finansial dan bisnis terkemuka tanah air kompak turun gunung untuk membagikan resep rahasia mencetak cuan bagi para pemula.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI), Hery Gunardi, bersama dengan Chairman & Founder CT Corp, Chairul Tanjung, blak-blakan membeberkan jurus jitu merintis bisnis agar mampu bertahan dan berkembang di tengah ketatnya persaingan pasar saat ini.
Petuah berharga dari dua singa bisnis tersebut dibagikan dalam sesi Education Class di ajang Jogja Financial Festival yang berlangsung di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).
Acara ini sukses menyedot perhatian dan dihadiri oleh sekitar 1.000 peserta dari kalangan pelaku UMKM, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum.
Dalam kesempatan tersebut, Dirut BRI Hery Gunardi merinci ada lima tips sakti yang wajib dipahami oleh siapa saja yang ingin memulai usaha. Sebagai pembuka, ia menyarankan agar calon pengusaha masuk ke sektor industri yang memiliki barikade persaingan longgar.
“Jadi kalau memang mau masuk mulai usaha, masuklah ke industri yang entry barrier (hambatan masuk) enggak susah,” ungkap Hery mengawali tipsnya.
Selanjutnya, ia menekankan pentingnya membaca perilaku pasar. Pengusaha pemula harus menguliti lanskap kompetisi, mulai dari siapa pembelinya hingga siapa pemain terkuatnya.
“Siapa yang pegang market share paling besar? Kenapa dia bisa besar? Kenapa dia bisa lebih maju? Nah kita belajar dari yang sudah maju,” imbuhnya.
Masuk ke tips ketiga, Hery menyoroti dosa besar yang paling sering membuat bisnis rintisan gulung tikar. Berdasarkan pengalamannya di BRI, banyak UMKM keok di tengah jalan hanya karena perkara pembukuan atau pencatatan keuangan yang amburadul.
“Kebanyakan masih belum memisahkan antara catatan belanja pribadi dengan belanja usaha, itu catatannya sama. Jadi tidak tahu ini untung yang mana, rugi yang mana. Karena dipakai uangnya untuk hari-hari. Yang benar adalah, catatan keuangan pribadi dan usaha harus dipisah, jadi kelihatan bahwa usaha ini ada untung atau tidak,” sentil Hery membedah tips ketiga.
Tak hanya itu, untuk tips keempat, ia mengingatkan sebuah aturan emas bahwa fokus utama sebuah bisnis baru pada 6 bulan pertama bukanlah mengejar untung besar, melainkan menjaga aliran kas (cash flow). Banyak usaha mati muda lantaran kehabisan napas akibat membiarkan pembeli menunggak pembayaran.
“Bapak sebenarnya potensi punya cash flow bagus, tapi Bapak masih ngutang ke pelanggan, akhirnya cash-nya kan terlambat. Nah biasanya habis napas itu karena cash-nya tidak cukup,” paparnya seraya meminta pelaku usaha untuk disiplin melakukan tata kelola.
Sebagai tips terakhir, Hery mendesak para perintis untuk wajib melek teknologi demi memangkas biaya variabel (variable cost) agar bisa bersaing di pasaran.
“Teknologi misalnya digunakan pakai internet, kemudian bisa jualan di TikTok, Instagram, dan juga lakukan inovasi-inovasi dari sisi digital dan online seperti itu,” katanya.
Setali tiga uang dengan bos BRI, si “Anak Singkong” Chairul Tanjung juga mengamini pentingnya penguasaan teknologi digital bagi para pengusaha baru. Menurut miliarder nasional ini, pengusaha yang sukses lahir karena berhasil membuat produk yang unik, memiliki pasar yang gemuk, serta cocok dengan generasinya.
CT menegaskan bahwa lanskap perdagangan global sudah bergeser secara radikal. Di era gempuran generasi milenial, gen Z, hingga gen alfa, keberadaan lapak dagang konvensional sudah mulai tergeser oleh ekosistem digital.
“Namanya jualan saat ini sudah tidak memerlukan toko fisik. Sebab, mayoritas konsumen sangat tergantung kepada e-commerce,” cetus CT.
Ia pun secara khusus memuji efektivitas satu platform video pendek yang dinilainya sukses menjungkirbalikkan peta pemasaran digital saat ini. CT mewanti-wanti para pelaku usaha agar tidak gagap teknologi jika tidak ingin layu sebelum berkembang.
“Namanya TikTok itu berpengaruh sangat luar biasa dalam namanya promosi barang, namanya jualan, sudah mengalahkan jauh Instagram, apalagi Facebook. Jadi, harus paham teknologi,” pungkas CT.













