banner 728x250

Diserbu Logam Mulia, Industri Perhiasan Nasional Masih Kuat Cetak Ekspor US$ 9,1 Miliar

Ilustrasi (Foto: Kemenperin)

ABNnews – Gempuran tren kenaikan harga logam mulia yang melonjak sejak akhir tahun 2025 ternyata tidak serta-merta meruntuhkan taji industri perhiasan nasional.

Meski minat masyarakat tengah bergeser kuat ke instrumen investasi emas batangan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga Indonesia masih kokoh berdiri dan bahkan sukses mencetak nilai fantastis sebesar US$ 9,1 miliar pada tahun 2025.

Nilai ekspor tersebut melesat signifikan sebesar 64,72 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang bertengger di angka US$ 5,5 miliar.

Rapor hijau ini memicu rasa optimisme pemerintah bahwa industri perhiasan dalam negeri tetap memiliki prospek cerah ke depan sebagai salah satu sektor strategis penyumbang devisa dan penyerapan tenaga kerja.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, lonjakan harga emas batangan memang mendorong masyarakat untuk melirik logam mulia sebagai instrumen investasi darurat.

Namun demikian, produk perhiasan dinilai memiliki nilai lebih yang tak tergantikan karena memegang fungsi ganda di mata konsumen.

“Tren lonjakan harga logam mulia memang menggiurkan sebagai aset investasi. Namun, jika dilihat lebih luas, sampai kapan pun masyarakat akan tetap membeli perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata karena memiliki dua fungsi yaitu sebagai investasi dan aksesori yang bisa dipakai dan dikoleksi,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Merujuk pada data World Gold Council, gairah pasar global terhadap emas batangan murni memang melonjak tajam hingga menyentuh 1.402 ton pada tahun 2025, atau naik 16 persen dari tahun sebelumnya yang berada di angka 1.208 ton.

Fenomena beralihnya minat ini berdampak pada konsumsi perhiasan emas domestik di Indonesia yang tercatat mengalami penurunan sebesar 27 persen, dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025.

Kendati pasar lokal terkoreksi, Agus menegaskan performa industri perhiasan nasional secara keseluruhan sama sekali tidak tergerus. Sektor ini terbukti andal menjadi salah satu motor penggerak neraca perdagangan Indonesia lewat kontribusi ekspor saktinya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menambahkan bahwa mayoritas pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) perhiasan di tanah air memilih untuk tetap fokus memproduksi perhiasan ketimbang latah beralih haluan ke bisnis logam mulia. Hal ini lantaran ceruk pasar fesyen perhiasan dinilai masih sangat kuat, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Berdasarkan kompilasi data BPS dan SIINas, saat ini terdapat 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia yang terdiri atas 49 industri besar, 79 industri menengah, dan 411 industri kecil. Rantai industri ini juga terbukti padat karya dengan menyerap sebanyak 21.116 tenaga kerja di seluruh Indonesia.

“Laporan Trademap.org memperlihatkan bahwa 83,96 persen produk utama ekspor industri perhiasan Indonesia berupa barang perhiasan dan bagiannya dari logam mulia selain perak dengan nilai mencapai USD 7,64 miliar,” ungkap Reni.

Daya saing mentereng ini lahir berkat kreativitas desain yang tinggi serta sentuhan identitas budaya lokal yang menjadi daya pikat utama di pasar global.

Membaca pergeseran daya beli konsumen akibat fluktuasi harga emas yang mahal, Direktur Industri Aneka Ditjen IKMA, Reny Meilany, menyebut masyarakat masih memiliki banyak alternatif pintar untuk tetap bisa mengoleksi perhiasan sekaligus berinvestasi.

“Bagi konsumen lokal, emas perhiasan dengan karat dan gramasi kecil serta desain yang menarik tetap bisa menjadi simpanan favorit sekaligus sebagai bentuk investasi,” urai Reny Meilany.

Di sisi lain, memperluas portofolio bisnis ke ranah logam mulia batangan rupanya bukan perkara gampang bagi para produsen perhiasan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Perhiasan Indonesia Iskandar Husin mengingatkan bahwa bisnis emas batangan menuntut permodalan yang masif, reputasi perusahaan yang kuat, serta pengelolaan risiko yang matang.

Hal serupa diamini oleh Direktur Utama PT Untung Bersama Sejahtera (UBS), Eddy Yahya. Menurutnya, tidak semua pabrikan siap menyeberang ke bisnis logam mulia karena karakteristik pasarnya menuntut jaminan keamanan produk serta branding yang absolut.

“Pengusaha tidak bisa sembarangan melakukan perluasan usaha. Harga bahan baku berubah hampir setiap hari, sementara itu konsumen cenderung memilih produk dengan kadar emas atau gramasi lebih ringan agar lebih efisien,” kata Eddy.

Tantangan ini turut disorot oleh Akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Alvi Lufiani. Ia menilai transisi tren ini mengharuskan pelaku industri ekstra waspada pada aspek regulasi hukum yang lebih ketat, mulai dari masalah sertifikat keaslian hingga izin perdagangan komoditas.

Selain itu, fluktuasi harga global yang bergerak liar menuntut perusahaan perhiasan memiliki likuiditas keuangan yang jauh lebih tinggi demi mengamankan jalannya roda bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *