ABNnews – Program Desa Berdaya Energi yang diinisiasi oleh PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) sukses mengubah wajah sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Gunungkidul.
Melalui pengelolaan limbah ternak yang terintegrasi, program ini tidak hanya menekan pencemaran lingkungan tetapi juga berhasil menciptakan potensi penghematan biaya pembelian pupuk hingga Rp 75,6 juta bagi masyarakat setempat.
Aksi nyata ini dijalankan oleh kelompok tani di dua wilayah, yakni Kalurahan Gombang dan Kalurahan Karangasem, Kepanewon Ponjong.
Hingga pertengahan tahun 2026, kolaborasi apik ini berhasil memproduksi sekitar 14 ton pupuk organik bermutu tinggi bernilai ekonomi total Rp 15,4 juta, yang sekaligus menyumbang tambahan kas bagi masing-masing kelompok sebesar Rp 7,7 juta.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengungkapkan bahwa pencapaian ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang telah digulirkan sejak 2024 lalu.
“Melalui Program Desa Berdaya Energi, PLN EPI mendorong masyarakat untuk mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat praktik ekonomi sirkular yang menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujar Mamit dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (18/7/2026).
Pemanfaatan pupuk organik mandiri ini terbukti menjadi jurus jitu bagi para petani lokal di Ponjong untuk keluar dari ketergantungan pupuk kimia mahal.
Mamit mengkalkulasikan, andai kebutuhan 14 ton pupuk di wilayah tersebut harus dipenuhi dengan membeli pupuk urea di pasaran, para petani diperkirakan harus merogoh kocek total hingga Rp 91 juta.
* Biaya Pupuk Kimia Ekspektasi: Rp 91 Juta.
* Potensi Penghematan Warga: Rp 75,6 Juta.
* Dampak Utama: Efisiensi biaya usaha tani meroket pesat.
Inti dari kesuksesan ekosistem Desa Berdaya Energi ini terletak pada pemanfaatan bahan baku kotoran Kambing Peranakan Etawa (PE) dan Sapi. Sejauh ini, sekitar 350 kilogram kotoran ternak murni telah terserap sebagai bahan baku campuran produksi.
Selama hampir dua tahun berjalan, total produksi limbah ternak yang diolah mencapai 23 ton di Kalurahan Gombang dan 15 ton di Kalurahan Karangasem untuk mendukung pertanian terpadu dengan siklus sebagai berikut:
Limbah kotoran peternakan diolah menjadi pupuk organik berkualitas -> Pupuk organik digunakan untuk menyuburkan tanaman multifungsi (seperti Indigofera, Kaliandra, dan Jatiputih) -> Daun dari tanaman subur tersebut dipanen kembali untuk pakan ternak harian.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Asem Mulya di Kalurahan Karangasem, Sunarto, mengakui intervensi dari PLN EPI telah merevolusi pola pikir masyarakat pesisir Gunungkidul dalam melihat potensi desa.
“Sebelumnya kotoran ternak hanya dianggap sebagai limbah. Sekarang kami mampu mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk lahan pertanian dan memiliki nilai jual,” kata Sunarto. Ia pun berharap PLN EPI terus mendampingi mereka, terutama dalam memperluas jangkauan pemasaran luar daerah.
Merespons hal tersebut, Mamit menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat kapasitas kelembagaan kelompok tani lewat pendampingan teknis dan peningkatan standardisasi mutu produk.
Langkah ini sekaligus menjadi bukti komitmen PLN EPI terhadap pemenuhan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).












