ABNnews – Penerbangan komersial menggunakan pesawat jet dipastikan segera kembali ke Kota Kembang.
Menyambut rencana tersebut, PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports tengah bergerak cepat mengebut pekerjaan peningkatan daya dukung infrastruktur sisi udara, mulai dari runway (landas pacu), taxiway, hingga apron di Bandara Husein Sastranegara Bandung.
Langkah akselerasi ini dilakukan guna memastikan kesiapan operasional bandara berjalan mulus sesuai target jadwal reaktivasi yang telah ditentukan dalam waktu dekat.
“Koordinasi terus dilakukan dengan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Corporate Secretary Group Head InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (18/7/2026).
Arie menambahkan bahwa fokus utama dari persiapan ini adalah pemenuhan seluruh aspek operasional yang disyaratkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Bukan hanya urusan landas pacu, InJourney Airports juga melakukan perombakan dan peningkatan fasilitas pada aspek keselamatan dan keamanan untuk menunjang operasional pesawat jet.
Menyediakan kendaraan siaga Foam Tender untuk keadaan darurat serta pemenuhan standar Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) Kategori 7.
Peningkatan area Screening Check Point (SCP) melalui pembaruan teknologi mesin X-ray, walkthrough metal detector (WMTD), hingga handheld metal detector (HHTD).
Rencana kembalinya operasional pesawat jet di jantung Jawa Barat ini langsung direspons cepat oleh industri penerbangan. Tercatat, sudah ada enam maskapai besar yang secara resmi mengajukan minat untuk membuka kembali rute dari dan menuju Bandung.
* Citilink: Rute Kualanamu, Denpasar, Surabaya.
* Super Air Jet: Rute Kualanamu, Denpasar, Pekanbaru, Makassar, Batam, Padang, Balikpapan, Pontianak.
* Garuda Indonesia: Rute Denpasar.
* Transnusa: Rute Lampung, Kuala Lumpur, Johor Bahru.
* Scoot: Rute Singapura.
* Wings Air: Rute Lampung, Palembang.
Demi mengakomodasi lonjakan lalu lintas udara tersebut, operator akan menerapkan sistem manajemen slot time (ketersediaan waktu take-off dan landing) yang ketat agar kapasitas bandara tetap berjalan aman dan efektif.
Kementerian Perhubungan sendiri menargetkan Bandara Husein Sastranegara mulai melayani pesawat jet secara bertahap sejak momen Hari Kemerdekaan RI sebelum nantinya beroperasi penuh. Kajian operasional dan safety assessment pun dilaporkan telah rampung.
Bandara mulai melayani pesawat jet dengan operasi minimal, penerbangan bisnis, serta penerbangan sewa (charter) bermodalkan infrastruktur dasar.
Bandara ditargetkan mencapai fase operasional penuh (full operation) untuk melayani pesawat jet komersial sekelas Boeing 737-800 dan Airbus A320.
Untuk menekan biaya operasional agar lebih efisien, Ditjen Hubud mendorong AP Indonesia mengoptimalkan mobilisasi aset eksisting tanpa pengadaan baru.
Salah satunya dengan memindahkan armada Aircraft Rescue and Fire Fighting (ARFF) dari Bandara Kertajati ke Bandara Husein setelah operasional pemulangan jemaah haji selesai dilaksanakan.












