ABNnews – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bergerak cepat menyikapi lonjakan kasus ebola di kancah internasional.
Otoritas kesehatan memastikan hingga detik ini belum ditemukan adanya kasus virus mematikan tersebut di wilayah teritorial Indonesia.
Langkah proteksi ketat ini menyusul keputusan mendadak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang baru saja menetapkan status darurat kesehatan masyarakat global alias Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) terkait ledakan wabah ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda pada 17 Mei 2026.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengungkapkan, alarm darurat dari WHO menjadi sinyal kuat perlunya kewaspadaan global tingkat tinggi.
Kebijakan ini digedok lantaran adanya penyebaran lintas wilayah, tingginya angka kematian, hingga masih buramnya peta penyebaran wabah di Afrika Tengah.
“Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,” beber Aji dalam edaran yang diterima, Rabu (20/5/2026).
Skrining Ketat Jalur Internasional, Siapkan Rumah Sakit Rujukan
Guna membentengi pertahanan dalam negeri, Kemenkes telah menginstruksikan penyiagaan tenaga medis di garda terdepan serta memperketat proses skrining bagi para pelancong mancanegara. Prosedur penanganan darurat juga sudah matang disiapkan.
“Pihak Kemenkes juga telah menyiapkan prosedur rujukan rumah sakit apabila nantinya ditemukan pelaku perjalanan internasional yang memiliki gejala mengarah pada ebola,” lanjut Aji.
Nantinya, seluruh pasokan laporan dari pintu gerbang luar negeri akan dipantau secara real-time melalui radar Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta pusat operasi darurat kesehatan (Public Health Emergency Operation Center/PHEOC).
Kendati pengawasan di perbatasan ditingkatkan secara masif, Aji meminta masyarakat luas untuk tetap tenang dan tidak terhasut oleh isu-isu liar maupun hoaks yang bertebaran di media sosial.
Meski begitu, publik diminta tetap mengerti bahaya laten dari virus ini. Pasalnya, ebola bukan penyakit sembarangan dan memiliki tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50 persen.
“Saat ini terdapat tiga jenis strain virus yang sering menyebabkan wabah, yaitu Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan yang saat ini berkembang di Kongo yaitu Bundibugyo Virus Disease (BVD),” urai Aji mendetail.
Sebagai langkah preventif paling mendasar, Kemenkes membagikan tips sederhana namun krusial agar masyarakat terhindar dari paparan virus maupun infeksi lainnya.
“Langkah terbaik saat ini adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit,” pungkas Aji.











