ABNnews – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan mengaku telah melaporkan rapor kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Eks Ketua DK LPS ini mengklaim kinerja instansi yang sempat diterpa isu miring tersebut kini sudah menunjukkan tren pemulihan yang signifikan.
Perbaikan komitmen kerja di lapangan itu tercermin dari performa setoran kepabeanan dan cukai yang akhirnya berhasil keluar dari zona kontraksi dan berbalik mencatatkan pertumbuhan positif.
“Jadi kelihatannya orang Bea Cukai sudah mulai serius kerjanya,” ungkap Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, Selasa (19/5/2026).
Menariknya, Purbaya menceritakan bahwa Presiden Prabowo menyambut laporan tersebut dengan tawa renyah.
Ia menilai, ketegasan pemerintah dalam melakukan reformasi birokrasi di internal Kemenkeu berhasil menciutkan nyali para pegawai untuk melakukan tindakan menyimpang.
“Kata Presiden, begitu (dikatakan) ‘Pak sudah membaik’, Presiden ketawa ‘hahahaha, mereka sudah mulai pada takut ya’, ‘iya kayaknya Pak’,” tutur Purbaya menirukan dialog hangatnya bersama Kepala Negara.
“Tapi kita nggak peduli, yang penting kinerjanya membaik,” sambung Menkeu.
Berdasarkan data resmi Kementerian Keuangan, realisasi setoran dari sektor bea dan cukai hingga akhir April 2026 berhasil mengantongi dana jumbo sebesar Rp 100,6 triliun. Angka ini tercatat tumbuh 0,6 persen lebih tinggi jika dikomparasikan dengan perolehan pada periode yang sama di tahun lalu.
Capaian moncer ini sekaligus menjadi penanda balik arah (turnaround) mengingat performa penerimaan kepabeanan sempat terpuruk dalam tiga bulan pertama tahun ini akibat kontraksi beruntun.
Sebagai catatan, penerimaan Bea Cukai sempat ambles masing-masing sebesar 14 persen pada Januari, merosot 14,7 persen pada Februari, dan terkontraksi 12,6 persen pada Maret.
Purbaya memaparkan, indikator keseriusan pegawai DJBC di lapangan juga dibuktikan lewat masifnya angka penindakan hukum terhadap komoditas selundupan dan barang ilegal di berbagai wilayah perbatasan sepanjang kuartal pertama 2026.
Khusus untuk klaster penindakan rokok ilegal, taring Bea Cukai terbukti makin tajam. Petugas tercatat berhasil menyita hingga 684 juta batang rokok per April 2026, atau melonjak tajam sebesar 125,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sementara itu, untuk penindakan penyelundupan narkotika dan obat-obatan terlarang, otoritas kepabeanan berhasil melakukan intersep alias penggagalan sebanyak 522 kali di berbagai pintu masuk Indonesia atau tumbuh 10,8 persen yoy.













