ABNnews – Ancaman serangan siber kini menjadi risiko baru yang berpotensi melumpuhkan keselamatan pelayaran, operasional pelabuhan, hingga rantai logistik nasional.
Mengantisipasi bahaya nyata tersebut, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menggandeng Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk menggelar pelatihan penanganan risiko siber sektor maritim.
Pelatihan bertajuk Training Penanganan Risiko Serangan Siber terhadap Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan ini digelar oleh Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP) bekerja sama dengan BSSN serta Asosiasi RSO Indonesia (ARSOINDO) di Batam pada 30–31 Juli 2026.
Plt. Direktur KPLP, Triono, menegaskan bahwa digitalisasi sektor maritim memang membawa efisiensi, namun di balik itu ada celah kejahatan siber yang siap mengintai kapan saja jika tak diantisipasi secara serius.
“Serangan siber dapat berdampak serius terhadap operasional kapal dan aspek keselamatan pelayaran, mulai dari gangguan layanan, kebocoran data, hingga potensi ancaman terhadap keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan secara keseluruhan,” ujar Triono dalam sambutannya.
Triono mengingatkan bahwa peretasan atau gangguan siber pada sistem kapal maupun pelabuhan bukan lagi sebatas persoalan teknis teknologi informasi (TI). Dampaknya bisa terasa langsung pada keselamatan fisik pelayaran di laut.
Oleh sebab itu, ia menekankan agar seluruh personel maritim memiliki kewaspadaan tinggi. Keamanan siber dipastikan menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya dibebankan kepada divisi IT.
“Keamanan siber bukan hanya tanggung jawab unit teknologi informasi. Setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga keamanan sistem, data, dan informasi yang digunakan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari,” tegasnya.
Agenda pelatihan ini dirancang untuk mendongkrak pemahaman dan kesadaran para personel kapal serta pengelola fasilitas pelabuhan. Diharapkan, peserta mampu mengidentifikasi, mencegah, hingga merespons insiden serangan siber secara cepat dan tepat.
Lewat kolaborasi strategis ini, Ditjen Hubla menargetkan terbentuknya budaya kewaspadaan siber yang kokoh di lingkungan maritim Indonesia demi menjaga pelayaran tetap aman dan berkelanjutan.
“Saya berharap seluruh peserta dapat meningkatkan kesadaran dan kemampuan dalam mengidentifikasi potensi ancaman siber, memahami langkah pencegahannya, serta mengimplementasikannya secara nyata di lingkungan kerja masing-masing,” pungkas Triono.












