PLN EPI Obral Kontrak Panjang Buat Pemasok Biomassa, Siap Cetak 150 Ribu Lapangan Kerja Hijau!

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menjadi pembicara dalam forum AgriWaste to Value di Jakarta pada Rabu (22/7).

ABNnews — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengobral skema kontrak pembelian jangka panjang hingga lima tahun bagi para pemasok biomassa, sebuah langkah besar yang diproyeksikan bakal mencetak hingga 150 ribu lapangan kerja hijau (green jobs) di berbagai wilayah Indonesia.

Kebijakan strategis ini ditujukan untuk memberikan kepastian pasar bagi pelaku usaha, mendorong investasi, serta mendongkrak kualitas dan kontinuitas pasokan biomassa. Langkah ini sekaligus menjadi bagian penting dari percepatan transisi energi menuju sistem ketenagalistrikan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam forum AgriWaste to Value di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan dari sektor bioenergi, perkebunan, industri, pemerintah, investor, dan penyedia teknologi untuk membahas pemanfaatan limbah pertanian menjadi biofuel, biomethane, biomethanol, Sustainable Aviation Fuel (SAF), biochar, hingga solusi dekarbonisasi berbasis biomassa.

Hokkop menegaskan, kepastian kontrak merupakan faktor krusial dalam membangun rantai pasok biomassa yang sehat dan berkelanjutan. Dengan adanya jaminan jangka panjang, para pemasok memiliki kepastian hukum dan ekonomi untuk berinvestasi, meningkatkan kapasitas produksi, serta menjaga kualitas produk.

“Apabila kualitas biomassa dapat dijaga, baik dari sisi nilai kalor maupun kontinuitas pasokan, PLN EPI dapat memberikan kontrak pembelian hingga lima tahun. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi dan meningkatkan kapasitas produksinya,” ujar Hokkop.

Ia menjelaskan, PLN EPI menerapkan pengadaan berbasis kualitas. Biomassa yang memiliki nilai kalor lebih tinggi dan mampu dipasok secara konsisten akan memperoleh skema harga yang lebih kompetitif.

Kepastian pasar ini juga menjadi fondasi penting yang melibatkan petani, koperasi, BUMDes, hingga industri pengolahan daerah.

“Kami ingin membangun industri biomassa yang sehat. Ekspor tetap menjadi peluang, tetapi pada saat yang sama kebutuhan domestik juga harus terjamin agar transisi energi nasional dapat berjalan secara berkelanjutan,” tambah Hokkop.

Sebagai bagian dari strategi transisi energi PLN Group, hingga Juni 2026 PLN EPI telah mengimplementasikan pemanfaatan biomassa pada 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan realisasi penggunaan mencapai 932.906 ton. Nilai kalor rata-rata yang dimanfaatkan pun meningkat menjadi 3.263 kkal per kilogram dari 16 jenis limbah pertanian dan kehutanan.

Ke depan, PLN EPI menargetkan pemanfaatan biomassa melonjak hingga 3,7 juta ton pada 2026 dan menembus 10 juta ton pada 2030.

Pencapaian ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang luar biasa:

* Nilai Ekonomi: Menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp 5,1 triliun.

* Reduksi Emisi: Memangkas emisi hingga 12 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun.

* Pengolahan Limbah: Memanfaatkan sekitar 20 juta ton limbah biomassa saban tahun.

* Lapangan Kerja: Menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau di berbagai daerah.


Untuk mengejar target raksasa tersebut, PLN EPI terus memperkuat ekosistem dari hulu ke hilir melalui pembangunan jaringan hub dan main hub biomassa, pengembangan fasilitas produksi, digitalisasi rantai pasok, hingga kemitraan erat bersama kelompok tani dan BUMDes di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *