Ibaratkan Konflik Timur Tengah Seperti Malaria, Bahlil Garansi Harga BBM Subsidi Tetap Aman

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat memberikan keynote speech pada ajang Innovation Technology for Social and Environmental Awards (INTECHSEA) 2026 di Jakarta, Senin (14/9)

ABNnews – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengibaratkan konflik gejolak di Timur Tengah seperti penyakit malaria yang kumat-kumatan.

Meski tensi geopolitik global memicu lonjakan harga minyak dunia, Bahlil menggaransi harga BBM bersubsidi di Indonesia tetap aman dan tidak akan dinaikkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat memberikan keynote speech pada ajang Innovation Technology for Social and Environmental Awards (INTECHSEA) 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).

“Saya selalu menganalogikan ini seperti penyakit malaria. Pagi sembuh, malam kambuh lagi,” ujar Bahlil merujuk pada ketegangan Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Dinamika global tersebut berdampak langsung pada pasokan energi nasional. Bahlil menyebut konsumsi BBM Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi (lifting) minyak mentah dalam negeri hanya berkisar 600-610 ribu barel per hari.

Meski fluktuasi harga minyak mentah dunia berpotensi melampaui asumsi APBN, pemerintah berkomitmen penuh melindungi daya beli masyarakat.

“Untuk harga subsidi, berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan,” tegas Bahlil di hadapan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Jamaluddin Jompa, Kepala BPOM Taruna Ikrar, serta Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Arsjad Rasjid.

Guna menutupi defisit minyak dalam negeri, Bahlil membeberkan bahwa dirinya turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto melakoni kunjungan kerja ke Rusia. Pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia dilakukan salah satunya untuk menegosiasikan pasokan minyak mentah (crude oil) jangka panjang.

Bahlil menegaskan, kebijakan energi nasional murni berpatokan pada kepentingan rakyat tanpa intervensi pihak luar.

“Indonesia adalah negara merdeka, tidak ada satu pun kekuatan asing yang bisa mengintervensi kebijakan pasokan energi kita demi kepentingan nasional,” terangnya.

Tak hanya soal BBM, Bahlil menyinggung keberhasilan hilirisasi mineral. Ekspor nikel mentah Indonesia yang pada 2017-2018 hanya bernilai 3,3-3,4 miliar dolar AS, melesat tajam menjadi 33 miliar dolar AS pada 2023 setelah keran ekspor bijih mentah ditutup.

Agar manfaat ekonomi dirasakan merata, Bahlil menegaskan industri smelter wajib berkolaborasi dengan pelaku usaha lokal, UMKM, dan koperasi melalui dukungan BPI Danantara.

“Bahan baku pertumbuhan yang ada di daerah, perputaran ekonominya harus dikuasai oleh daerah. Jadikan orang daerah sebagai tuan di negerinya sendiri,” jelas Bahlil.

Mendukung pemerataan ekonomi berbasis riset, Bahlil menyatakan komitmen penuh atas rencana Unhas mendirikan Institut Mineral Kritikal guna mengoptimalkan potensi nikel, kobalt, hingga logam tanah jarang di Indonesia timur.

“Institut Mineral Kritikal dari Unhas, saya dukung seribu persen,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *