Indonesia Targetkan Emisi Nol Persen Penerbangan Internasional Lewat SAF di 2050

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat membuka agenda lokakarya SAF ASEAN bertajuk “Advancing SAF Implementation in the ASEAN Region” yang digelar di Bali, Senin (13/7/2026).

ABNnews – Pemerintah Indonesia membidik target ambisius untuk mencapai emisi karbon net-zero (nol persen) pada penerbangan internasional pada tahun 2050 mendatang.

Langkah nyata ini diakselerasi lewat pengembangan dan implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan di kawasan regional.

Komitmen besar tersebut ditegaskan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat membuka agenda lokakarya SAF ASEAN bertajuk “Advancing SAF Implementation in the ASEAN Region” yang digelar di Bali, Senin (13/7/2026).

Gelaran internasional yang dihadiri delegasi negara-negara ASEAN, perwakilan ICAO, Uni Eropa, EASA, pelaku industri penerbangan, hingga kalangan akademisi ini menjadi panggung strategis untuk memperkuat kolaborasi dekarbonisasi sektor penerbangan udara.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara yang diwakili oleh Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Sokhib Al Rokhman, menegaskan bahwa tantangan saat ini bukan lagi sekadar wacana apakah SAF akan dipakai atau tidak di masa depan. Fokus utamanya adalah seberapa cepat dan efektif negara-negara ASEAN bisa berkolaborasi mengimplementasikannya secara masif.

“Pertanyaannya bukan lagi mengenai apakah SAF akan menjadi bagian dari masa depan penerbangan, melainkan mengenai seberapa cepat, efektif, dan kolaboratif penerapannya dapat dipercepat di seluruh kawasan ASEAN,” tutur Sokhib.

Menurut Sokhib, ASEAN sudah menggenggam seluruh elemen kunci untuk membangun ekosistem bahan bakar hijau yang kokoh. Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam dikenal kaya akan ketersediaan bahan baku terbarukan yang melimpah.

Di sisi lain, negara maju seperti Singapura memiliki keunggulan mutlak pada aspek teknologi, inovasi, serta kapasitas industri.

“Dengan menggabungkan kekuatan yang saling melengkapi ini, ASEAN dapat membangun industri SAF regional yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi seluruh negara anggota,” sambung Sokhib.

Ia menambahkan, pengembangan avtur ramah lingkungan ini bukan sekadar keharusan demi menjaga lingkungan, melainkan peluang emas untuk memosisikan ASEAN sebagai salah satu pusat ekosistem energi penerbangan berkelanjutan terdepan di dunia.

Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari keberhasilan Indonesia yang sukses menjadi tuan rumah Pertemuan Keempat Working Group 5 ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP) di Bali pada pekan sebelumnya.

Rentetan dua kegiatan internasional tersebut membuktikan peran aktif Indonesia dalam menerjemahkan kampanye hijau dunia ke dalam aksi regional lewat pertukaran ilmu dan penguatan kemitraan.

Dalam forum ini, para ahli membahas tuntas berbagai isu krusial. Mulai dari diversifikasi bahan baku, sertifikasi ramah lingkungan, teknologi manufaktur, kesiapan infrastruktur bandara, kerangka hukum regulasi, pengembangan pasar, pembiayaan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kemenhub pun menekankan pentingnya penyusunan peta jalan (roadmap) bersama ASEAN. Peta jalan ini nantinya mencakup harmonisasi aturan antarnegara, percepatan adopsi teknologi, peningkatan kapasitas produksi, hingga penguatan rantai distribusi regional yang solid.

“Masa depan penerbangan berkelanjutan di ASEAN tidak akan dibangun oleh satu negara yang bertindak sendiri. Masa depan itu akan dibangun melalui saling percaya, berbagi pengetahuan, kepemimpinan kolektif, dan kemitraan yang kuat,” tegas Sokhib.

Sebagai salah satu raksasa pasar penerbangan di ASEAN dengan potensi energi hijau melimpah, Indonesia menyatakan kesiapannya memimpin kerja sama ini demi mewujudkan sistem transportasi udara yang lebih bersih, tangguh, serta mendukung pencapaian target emisi karbon net-zero di tahun 2050.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *