ABnnews – Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha, diduga kuat mengalami tekanan psikologis atau depresi berat dari pihak luar sebelum akhirnya meninggal dunia.
Pihak keluarga kini membuka isi surat wasiat berisi pesan terakhir almarhumah, yang menyatakan telah memaafkan tiga oknum anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), NTT, meski meminta proses hukum atas mereka tetap berjalan.
“Surat wasiat almarhumah itu, dia telah mengampuni ketiga orang tersebut. Namun proses hukum tetap dilanjutkan,” ungkap paman sekaligus juru bicara keluarga almarhumah, Fabianus Banase, Selasa (30/6/2026).
Fabianus menjelaskan bahwa saat ini pihak keluarga besar masih dalam suasana berkabung yang mendalam. Oleh karena itu, keluarga masih menunggu momentum yang tepat setelah peringatan malam ketiga sebelum melayangkan laporan resmi ke aparat kepolisian.
“Finalnya malam ketiga besok. Setelah itu, baru keluarga mengambil sikap untuk waktu yang pas melaporkan ke Polda NTT, kemungkinan hari Jumat nanti,” jelas Fabianus.
Di sisi lain, proses hukum awal sudah mulai berjalan. Pihak keluarga bersikap kooperatif dengan menyerahkan sejumlah barang pribadi milik dr Icha yang kini telah diamankan oleh penyidik Polres Kupang demi keperluan penyelidikan.
Barang Bukti yang Diamankan: 2 unit handphone (HP) milik almarhumah serta beberapa barang pribadi lainnya yang berkaitan dengan pembuktian kasus.
Kepergian dr Icha yang tragis menyisakan luka batin yang teramat dalam bagi sang ibu, Nur Azizah. Sembari menangis pilu, Nur mengaku hancur dan tidak pernah terbayang sedikit pun bahwa anak perempuan yang dilahirkannya harus meregang nyawa akibat intimidasi dari pihak tertentu.
“Saya sangat mengasihi dia, saya sangat mencintai dia. Dalam hidup saya tidak pernah ini. Bahkan saya tidak pernah mimpi sekalipun hal ini bisa terjadi pada kehidupan anak saya,” ratap Nur Azizah.
Sebagai seorang ibu yang membesarkan korban dengan penuh kasih sayang, Nur merasa berat menerima kenyataan pahit ini.
Ia menunjuk adanya oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja membuat kondisi psikologis putrinya drop hingga berujung pada tragedi.
“Anak saya harus meregang nyawa karena pihak-pihak tertentu atau oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab, yang begitu luar biasa menekan psikologis anak saya,” tegas Nur.
Mengakhiri kalimatnya, Nur menyampaikan permohonan maaf serta rasa terima kasih yang mendalam atas besarnya gelombang dukungan dan empati dari masyarakat luas. Bagi keluarga, kepergian dr Icha kini telah menjadi duka bersama.












