ABNnews – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pasang badan meluruskan kabar miring terkait rencana hengkangnya pelaku industri otomotif tanah air.
Kemenperin memastikan PT JAI yang berbasis di Pasuruan dan PT SAI di Mojokerto tidak akan merelokasi fasilitas produksinya dari Indonesia ke Vietnam.
Pernyataan tegas ini sekaligus merespons sekaligus menepis isu liar yang menyebut kedua perusahaan komponen otomotif asal Negeri Sakura itu tetap bakal memindahkan sebagian lini produksinya ke luar negeri.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengungkapkan pihaknya telah bergerak cepat melakukan komunikasi langsung dengan jajaran manajemen kedua perusahaan.
Dari hasil koordinasi tersebut, Kemenperin mengantongi jaminan bahwa operasional pabrik tetap bertahan di Indonesia.
“Kami yakin berdasarkan kontak kami dengan pihak dua perusahaan tersebut, bahwa mereka tidak akan melakukan relokasi fasilitas produksi dari Indonesia ke Vietnam saat ini,” tegas Febri di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Febri menambahkan, publik tidak perlu cemas karena Kemenperin memiliki dasar serta otoritas yang kuat selaku instansi pembina sektor manufaktur dan industri otomotif tersebut.
Pertemuan tatap muka sengaja digelar demi membedah langsung kondisi riil operasional perusahaan serta memantau rencana bisnis (business plan) jangka panjang mereka di Indonesia ke depan.
“Jawaban kami adalah bahwa kami Kementerian Perindustrian yang membina industri tersebut,” tuturnya.
Klarifikasi pemerintah ini mencuat pasca adanya pernyataan dari Presiden KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia) sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal.
Sebelumnya, Said Iqbal membeberkan bahwa kedua produsen tersebut awalnya memang berniat memboyong sekitar 50% lini produksi mereka ke Vietnam. Namun, rencana ekspansi besar-besaran itu diklaim berhasil ditekan berkat ruang dialog yang intens antara manajemen dan serikat pekerja.
“Yang rencananya besar-besaran, hanya 50% enggak jadi. Hanya 3 sampai 5 line saja, line produksi yang dipindahkan ke Vietnam,” kata Said Iqbal dalam konferensi pers daring, Minggu (28/6/2026).
Mengenai potensi pengurangan tenaga kerja akibat dipindahkannya sedikit lini produksi tersebut, Said Iqbal memastikan kondisinya tidak akan berujung pada badai PHK massal yang meresahkan.
Berdasarkan draf rencana bisnis perusahaan hingga tahun 2030 yang telah dipaparkan kepada dirinya, pengurangan karyawan akan terjadi secara alamiah.
Langkah yang diambil manajemen adalah dengan opsi tidak memperpanjang sebagian kontrak kerja karyawan yang memang telah berakhir, bukan lewat pemangkasan sepihak.












