banner 728x250

NIK Ribuan Ayah di Surabaya Diblokir! Ternyata Gara-gara ‘Lupa’ Kasih Nafkah Anak

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ABNnews – Masalah “putus nafkah” anak setelah perceraian lagi jadi momok di Kota Pahlawan. Berdasarkan data terbaru Pemkot Surabaya, masih ada 8.161 ayah yang bandel nggak menunaikan kewajiban nafkahnya. Alhasil, NIK mereka pun dinonaktifkan sebagai sanksi tegas agar mereka mau bertanggung jawab.

Tapi tunggu dulu. Ternyata fenomena ini nggak cuma soal isi dompet yang tiris atau hukum yang kaku. Ada “luka” psikologis yang bikin para ayah ini tega memutus hak dasar anak mereka sendiri.

Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., menjelaskan kalau perceraian itu sering banget memicu rasa gagal atau amarah yang meluap pada laki-laki. Nah, bukannya dihadapi dengan dewasa, banyak ayah yang justru menarik diri dari tanggung jawab sebagai bentuk coping atau pelarian yang salah.

“Perceraian sering memicu luka emosional atau rasa gagal. Dalam beberapa kasus, ini membuat mereka menarik diri dari tanggung jawab sebagai bentuk coping yang maladaptif,” ujar Meity dilansir Antara, Kamis (16/4/2026).

Konflik panas dengan mantan istri juga sering bikin ayah secara nggak sadar memutus ikatan emosional dengan anaknya. Padahal, anak nggak salah apa-apa ya!

Banyak laki-laki yang merasa perannya selesai saat rumah tangga bubar. Mereka mengalami kebingungan identitas dan merasa kalau anak sudah diasuh ibu, maka tanggung jawab mereka otomatis luntur.

Muncul mekanisme pembelaan diri alias rasionalisasi kalau kewajibannya sudah selesai. Padahal, nafkah itu hak mutlak anak, bukan “bantuan” buat mantan pasangan.

“Penting menanamkan bahwa nafkah adalah hak anak, bukan bergantung pada relasi dengan mantan pasangan,” tegas Meity.

Dampaknya nggak main-main. Para ibu yang harus jadi single fighter alias cari nafkah sekaligus mengasuh anak sendirian berisiko kena stres kronis sampai gangguan kecemasan.

Sementara buat si kecil, ketidakhadiran ayah secara finansial maupun emosional bisa bikin mereka nggak percaya diri dan kehilangan rasa aman. Dalam jangka panjang, ini bisa berpengaruh ke cara mereka menjalin hubungan saat dewasa nanti.

Meskipun begitu, Meity mengingatkan kalau dampak ini nggak selalu mutlak. Anak tetap punya peluang tumbuh sehat dan tangguh asalkan mendapat dukungan lingkungan yang hangat dan figur pengganti yang positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *