ABNnews – Kawasan industri di Indonesia semakin dilirik oleh para investor asing di tengah persaingan investasi global yang kian dinamis. Bahkan, hasil survei badan promosi perdagangan Jepang atau Japan External Trade Organization (JETRO) mencatat sekitar 70 persen perusahaan Jepang yang berinvestasi di Indonesia berhasil meraup keuntungan (cuan).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, tingkat keuntungan tersebut merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan investasi perusahaan Jepang di sejumlah negara tetangga lainnya.
Hal itu disampaikan Airlangga saat memberikan sambutan penutup dan arahan pada Malam Syukuran 38 Tahun Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang emas untuk memikat arus investasi lantaran sejumlah negara pesaing mulai mengalami keterbatasan.
Hambatan di negara pesaing mencakup melambungnya biaya tenaga kerja, ketersediaan lahan yang makin terbatas, hingga masalah pasokan energi.
Keberadaan kawasan industri di Tanah Air terbukti menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional dalam menciptakan lapangan kerja dan daya saing. Hingga saat ini, tercatat ada 129 kawasan industri yang tersebar di 24 provinsi dengan total luas lahan mencapai 170 ribu hektare.
Kawasan industri tersebut telah menampung sekitar 10.400 perusahaan manufaktur serta menyerap sedikitnya 4,5 juta tenaga kerja.
“HKI sejak tahun 1988 telah tumbuh menjadi mitra strategis pembangunan nasional. Kalau kita ketahui, mulai dari Bekasi sampai ke Timur Indonesia, kita telah membangun yang namanya North Java Corridor. Koridor Utara Jawa, itu seluruhnya diisi oleh kawasan industri,” ujar Menko Airlangga.
“Kawasan industri menjadi penggerak bangsa, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.
Selain sektor manufaktur konvensional, pemerintah mendorong kawasan industri agar adaptif terhadap transformasi digital yang bergerak cepat, khususnya kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan data center.
Meningkatnya kebutuhan data center dinilai membuka ceruk investasi baru yang menjanjikan bagi kawasan industri di Indonesia, yang didukung ketersediaan lahan, air, hingga pasokan energi terbarukan.
“Peluang Indonesia pada sektor tersebut ke depan sangat besar sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal, termasuk melalui percepatan penguatan konektivitas kelistrikan dan penyediaan energi hijau,” tutur Airlangga.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana menegaskan komitmen pelaku usaha kawasan industri untuk terus menarik investasi masuk ke daerah.
Kendati demikian, ia mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah untuk memangkas hambatan regulasi (debottlenecking) di lapangan.
Menanggapi permintaan tersebut, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan optimisme pemerintah dalam membenahi berbagai kendala investasi.
“Sebagaimana pernyataan Bapak Menko, apa yang menjadi persoalan hari ini memang menjadi PR yang perlu diselesaikan. Karena itu, Pemerintah akan terus melakukan debottlenecking kebijakan dan memperkuat kolaborasi dengan para stakeholder. Kami optimis berbagai tantangan tersebut pasti akan terselesaikan,” pungkas Haryo.












