Kisah Pemuda Demak Modal Rp 80 Juta Sukses Kembangkan Pertanian Canggih Berbasis AI

Arifin, menunjukkan budidaya melon dengan memanfaatkan teknologi modern, Minggu (26/7/2026). Ia merupakan petani muda Desa Bandungrejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.(KOMPAS.COM/NUR ZAIDI)

ABNnews – Berawal dari modal riset sekitar Rp 80 juta, seorang pemuda asal Desa Bandungrejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, berhasil mengembangkan teknologi pertanian canggih berbasis Artificial Intelligence (AI) dan IoT.

Lulusan sarjana teknik elektro bernama Nurul Arifin (25) ini sukses menciptakan aplikasi bernama Ar Farm untuk memantau dan merawat tanaman pertaniannya secara otomatis.

Inovasi tersebut lahir dari keberanian Arifin merogoh kantong pribadi untuk melakukan riset selama satu tahun terakhir. Bagi anak petani ini, modal puluhan juta rupiah yang dikeluarkan sangat sepadan dengan terobosan baru yang berhasil ia ciptakan di bidang pertanian.

“Dari nol ya mungkin 70 sampai 80 juta, biaya risetnya tapi sebanding dengan ilmu yang didapatkan,” kata Arifin dikutip kompascom, Senin (27/7/2026) sore.

Melalui aplikasi Ar Farm, Arifin bisa memantau kebutuhan nutrisi tanaman, kelembapan media tanam, hingga suhu udara secara real-time selama 24 jam penuh hanya dari layar gawai berbekal koneksi internet.

“Fungsinya untuk mempermudah kita merawat saja, jadi kita bisa monitoring melalui handphone, terus kadar kelembaban pada polybag juga bisa monitoring, terus kadar nutrisi,” jelasnya sembari menunjukkan fitur grafik di ponselnya.

“Ini grafiknya ada, kelembapan tanah, suhu ada semua, jadi kita tidak usah khawatir tanaman kurang apa, kurang apa,” sambung Arifin.

Teknologi modern tersebut ia praktikkan langsung di bangunan greenhouse seluas 21×7,5 meter. Tempat ini menampung 150 tanaman melon dengan sistem polybag (media cocopeat dengan sistem drip tetes) dan 400 pohon menggunakan sistem hidroponik (media air).

Seluruh sistem dialirkan secara otomatis melalui mesin kontrol pintar tanpa menggunakan media tanah sama sekali.

“Dari kedua sistem ini dia tidak memakai tanah sebagai menanamnya, yang drip tetes kita menggunakan kokofit yang hidroponik kita full media air,” terangnya.

Setelah tiga bulan menjalani masa uji coba penanaman, hasil jerih payah Arifin mulai membuahkan hasil. Tanaman melon dengan media polybag sudah berbuah dan tinggal menunggu masa panen dalam dua pekan ke depan.

“Uji coba ini 80 persen berhasil, hasilnya cukup memuaskan, cuma ada beberapa tanaman saja yang terkena penyakit. Alhamdulillah berbuah, mungkin 2 minggu lagi bisa panen untuk sistem drip tetes,” ungkapnya bersyukur.

Ke depan, Arifin berencana menerapkan teknologi pintar ini untuk skala penanaman yang lebih besar di lahan milik ayahnya. Tak hanya bermanfaat bagi usahanya sendiri, terobosan Arifin ini kini juga dimanfaatkan oleh para mahasiswa sebagai objek penelitian tugas akhir (skripsi).

“Iya ini untuk skripsi juga, saling bantu, saya dapat ilmunya mereka juga dapat ilmunya, kerja sama,” tutup Arifin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *