ABNnews — Capaian nilai ekspor produk kelapa sawit Indonesia berhasil menembus angka fantastis sebesar USD 30,87 miliar di tahun 2025, yang mendorong Pemerintah untuk makin gencar menerapkan strategi baru lewat penguatan ekosistem riset, pengembangan B50, hingga akselerasi bensin sawit.
Langkah strategis ini ditempuh guna memperkuat fondasi industri sawit nasional agar tetap berkelanjutan, memiliki nilai tambah tinggi, serta berdaya saing global.
Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), nilai ekspor sebesar USD 30,87 miliar tersebut ditopang oleh volume ekspor yang mencapai 38,84 juta ton, atau melonjak 11,05% dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, industri kelapa sawit pun sukses memberikan kontribusi sekitar 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional di tahun 2025.
Pentingnya penguatan inovasi dan riset tersebut ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan closing remarks dalam ajang Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
“Kami memberikan apresiasi kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan atas konsistensinya menyelenggarakan dan menghadirkan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) sebagai sarana dan pertemuan antara riset, kebijakan, industri, dan investasi. Secara khusus, saya juga memberikan selamat kepada para pemenang mahasiswa tadi yang membuat riset mengenai polyurethane foam, kemudian membuat anoda dari TBS,” ujar Airlangga.
Dalam rangka mendukung Program Swasembada Energi Nasional dan Hilirisasi Kelapa Sawit, Pemerintah telah mengimplementasikan Program Biodiesel 50 (B50) per 1 Juli 2026, yang juga telah di-launching resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 lalu.
Mandatori B50 ini menjadi contoh konkret keberhasilan dalam menyatukan riset, kebijakan, investasi, serta kapasitas industri demi mencapai tujuan strategis nasional.
Airlangga menekankan bahwa keberhasilan B50 harus menjadi landasan untuk mengembangkan generasi hilirisasi berikutnya. Beberapa fokus produk hilir bernilai tambah tinggi tersebut antara lain: Green Diesel, Bio Avtur / Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui pemanfaatan Used Cooking Oil (UCO), serta Bensin Sawit.
Produk-produk inovatif ini dinilai mampu memperluas basis investasi nasional di luar komoditas sawit konvensional. Selain itu, besarnya kontribusi kelapa sawit perlu terus diperkuat lewat peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, dan penerapan tata kelola yang berkelanjutan melalui transformasi berbasis riset..
Forum PERISAI 2026 juga memberikan panggung bagi generasi muda melalui Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa yang melibatkan peserta dari 40 perguruan tinggi se-Indonesia.
Setelah melalui rangkaian seleksi ketat selama 2 hari, terpilih 10 mahasiswa terbaik dan 3 peserta juara yang menerima penghargaan langsung.
Airlangga menegaskan bahwa riset perguruan tinggi memegang peranan yang sangat vital bagi industri.
“Kegiatan ini tentu menjadi sangat penting karena riset kebijakan dan juga investasi ini menjadi hal yang sangat penting apalagi para researcher-nya adalah dari perguruan tinggi di Indonesia. Karena Indonesia adalah produsen terbesar dari sawit maka wajar kalau para penelitinya berasal dari universitas-universitas terbaik di Indonesia,” kata Airlangga.
Ia pun mendesak agar hasil-hasil penelitian tersebut tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat segera diadopsi dan dikomersialkan oleh industri dengan tetap memberikan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi para peneliti.
Di samping pengembangan industri kelapa sawit, Menko Airlangga turut mendorong percepatan program peremajaan (replanting) untuk tanaman kakao dan kelapa.
Kedua komoditas ini sebagian besar dikelola oleh perkebunan rakyat sehingga memerlukan perhatian ekstra demi meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
“Apresiasi kepada BPDP, peneliti, perguruan tinggi, lembaga riset dan para pelaku usaha, serta seluruh pihak yang berkontribusi terhadap PERISAI 2026 dan juga untuk pembangunan industri kelapa sawit nasional. Saya ingin agar kegiatan ini terus diperkuat, ditindaklanjuti sehingga bermanfaat bagi perekonomian, bisa meningkatkan kesejahteraan petani, dan meningkatkan juga nilai tambah daripada pekebun,” pungkas Menko Airlangga.












