ABNnews – PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) mengusung misi besar dalam menggenjot kapasitas produksinya.
Raksasa kedirgantaraan nasional ini siap memboyong aktivitas produksi, pengujian, hingga perawatan armada pesawat andalannya, CN235 dan N219, ke kawasan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka.
Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PTDI dan PT BIJB mengenai Pengembangan Kawasan Sisi Barat Bandara Kertajati sebagai landasan pembangunan kawasan industri kedirgantaraan nasional.
Penandatanganan kerja sama ini dilakukan oleh Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, bersama Plt. Direktur BIJB, Ronald H. Sinaga.
Prosesi sakral ini disaksikan langsung oleh Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infrawil), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Wakil Menteri Perhubungan, Suntana, serta Bupati Majalengka, Eman Suherman, di Kantor Kemenko Infrawil, Jakarta Pusat.
Langkah ini juga menjadi jawaban konkret PTDI setelah mendapatkan penugasan jumbo dari negara untuk memproduksi 80 unit pesawat CN235 dan 30 unit pesawat N219.
Kehadiran klaster baru di Kertajati diharapkan mampu mempercepat komersialisasi N219 sekaligus memperkuat infrastruktur produksi perusahaan.
Menko Infrawil AHY memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi strategis ini. Pemerintah, kata AHY, berkomitmen penuh untuk menyulap Kertajati tidak sekadar menjadi tempat pendaratan pesawat komersial, melainkan sebagai pusat ekosistem dirgantara yang solid.
“Hari ini kita menyaksikan penandatanganan MoU antara PTDI dan BIJB sebagai bagian dari komitmen bersama untuk mengembangkan Kertajati menjadi salah satu hub industri kedirgantaraan nasional,” ujar AHY dalam keterangannya, dikutip Kamis (16/7/2026).
AHY menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap industri pertahanan dan kedirgantaraan dalam negeri agar mampu berbicara banyak di kancah internasional.
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kita memiliki kemampuan, memiliki industrinya, tinggal bagaimana kita menciptakan pasarnya. Negara-negara maju selalu memulai dari keberpihakan terhadap industri dalam negerinya sendiri sebelum mampu bersaing di pasar global,” tegas AHY.
Kerja sama pengembangan di sisi barat Bandara Kertajati ini akan berjalan secara bertahap meliputi jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.
Pada fase awal, kedua belah pihak akan langsung mengoptimalkan fasilitas eksisting bandara, termasuk jalur pacu (runway). Fasilitas ini akan digunakan untuk mendukung kegiatan uji terbang (flight test) produk-produk andalan PTDI yang mencakup kategori Fixed Wing, Rotary Wing, hingga Unmanned Aircraft System (UAS) alias pesawat tanpa awak, baik untuk kebutuhan militer maupun komersial.
Melalui ekosistem ini, PTDI tidak hanya fokus menjual produk, melainkan juga menghadirkan layanan purna jual yang komplet, mulai dari Pengujian dan sertifikasi armada, Pemeliharaan, perbaikan, dan pemeriksaan (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO), Pembuatan struktur pesawat (Aerostructure), serta Layanan life cycle support demi memperkuat fleet readiness armada.
Sinergi ini turut memicu optimisme dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Dalam sambutan Kepala BPI Danantara yang dibacakan oleh Gita Amperiawan, ditegaskan bahwa Kertajati punya potensi besar melahirkan industri dirgantara yang tangguh di masa depan.
“Kami sangat yakin di Kertajati ini bisa dibangun suatu industri kedirgantaraan nasional yang tangguh. Di sana ada manufaktur, ada MRO, ada aerostructure, dan tentunya ini akan menjadi suatu kolaborasi antara industri, pemerintah, pemerintah daerah, dan global partner,” kata Gita.
Gayung bersambut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jawa Barat, Sumasna, yang mewakili Gubernur Jabar turut menitipkan harapan besar agar Kertajati bisa bertransformasi menjadi tulang punggung baru ekonomi daerah.
”Harapan kami, Kertajati tidak berhenti sebagai bandara, tetapi juga tumbuh menjadi salah satu pusat industri kedirgantaraan nasional,” pungkas Sumasna.












