ABNnews – Komoditas kelapa sawit terbukti menyimpan potensi raksasa yang jauh melampaui produk hilir konvensionalnya. Riset terbaru yang disokong Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) membuktikan bahwa komoditas strategis nasional ini bisa disulap menjadi bensin ramah lingkungan hingga suplemen obat untuk ibu hamil.
Komitmen hilirisasi tersebut bakal dipamerkan dalam ajang tahunan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang siap digelar pada 20–21 Juli mendatang.
Langkah ini menjadi momentum penting dalam mendiseminasikan hasil penelitian serta memperkuat jembatan kolaborasi riset sawit di tanah air.
“Melalui PERISAI, kami ingin menunjukkan bahwa sawit bukan hanya menghasilkan minyak nabati atau biodiesel. Berbagai hasil riset yang didukung BPDP telah menghasilkan inovasi di bidang pangan, kesehatan, energi terbarukan, biomaterial, hingga rekayasa industri,” ujar Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, dalam acara Media Briefing Road to PERISAI 2026 di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Salah satu terobosan penting di bidang kesehatan yang siap dipaparkan adalah kegunaan Red Palm Oil (minyak sawit merah) sebagai suplemen pangan fungsional untuk menunjang diet ibu hamil.
Riset ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Ratu Ayu Dewi Sartika, M.Sc.
Menurut Prof. Ratu Ayu, kandungan nutrisi yang melimpah pada minyak sawit merah sangat berpotensi meningkatkan status gizi masyarakat dan menekan angka stunting.
“Kelapa sawit memiliki kandungan nutrisi yang sangat potensial untuk mendukung perbaikan status gizi masyarakat. Melalui riset yang berkelanjutan, kita dapat mengembangkan berbagai produk pangan yang tidak hanya aman, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang lebih luas,” tutur Prof. Ratu Ayu.
Di sektor energi terbarukan, inovasi yang tidak kalah memukau adalah pengembangan teknologi BENSA (Bensin Sawit) berbasis Mixed Industrial Vegetable Oil (MIVO). Formula alternatif bahan bakar hijau ini digarap oleh Dr. Ir. C.B. Rasrendra, S.T., M.T.
BENSA diproyeksikan membuka jalur baru pemanfaatan kelapa sawit untuk melepaskan ketergantungan energi nasional pada pasokan fosil impor.
“BENSA merupakan salah satu contoh bagaimana hasil riset mampu membuka peluang pemanfaatan baru bagi kelapa sawit. Ke depan, inovasi seperti ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong tumbuhnya industri berbasis sumber daya domestik,” jelas Dr. Rasrendra.
Alfansyah menambahkan, BPDP telah mendanai ratusan penelitian yang melibatkan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset di Indonesia selama lebih dari satu dekade.
Dia menegaskan, BPDP membangun ekosistem inovasi agar temuan-temuan ini tidak hanya berakhir sebagai tumpukan publikasi ilmiah di atas kertas.
“PERISAI bukan sekadar forum ilmiah, tetapi menjadi ruang bertemunya peneliti, pemerintah, industri, pelaku usaha, dan investor agar hasil riset dapat diterapkan secara luas, termasuk oleh pekebun rakyat,” tambahnya.
Mengusung tema besar “Shaping The Palm Oil Industry Ecosystem For A Sustainable Future”, gelaran PERISAI 2026 akan menyajikan rangkaian kegiatan interaktif, mulai dari seminar, business matching, kompetisi inovasi, hingga pameran hasil riset yang terbagi dalam enam bidang utama: Bioenergi, Lingkungan, Biomaterial, Budidaya dan pascapanen, Pangan dan kesehatan, serta Sosial, ekonomi, manajemen, pasar, dan teknologi informasi.
Melalui perhelatan ini, BPDP berharap hasil riset sawit nasional dapat segera diserap oleh kalangan industri, diadopsi oleh pekebun rakyat, dan menjadi fondasi kokoh untuk mendongkrak daya saing global Indonesia secara berkelanjutan.












