ABNnews – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, blak-blakan membongkar strategi baru fondasi ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
Di depan para duta besar dunia, Airlangga memamerkan kesuksesan luar biasa dari program Biodiesel B50 yang mampu menghemat devisa negara hingga Rp 177 triliun.
Langkah berani meluncurkan B50 ini sengaja dieksekusi pemerintah untuk memangkas emisi karbon secara drastis di sektor transportasi hingga 44 juta ton setiap tahunnya.
Jurus ini menjadi bagian penting dari tiga pilar utama yang digenjot pemerintah saat ini, yaitu kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan transformasi digital, demi menembus ketidakpastian ekonomi global.
“Ke depan, berarti juga akan banyak tantangan dalam rantai pasok serta lapangan kerja. Namun, di bawah arahan Presiden Prabowo, saya pikir adopsi teknologi selaras dengan fokus kemandirian sumber daya Indonesia dalam memajukan kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan sejalan dengan roadmap transformasi digital yang jelas,” kata Airlangga saat memberikan keynote speech dalam acara Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomatic Breakfast bertema “Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy” di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Selain urusan energi hijau, Airlangga juga mengumbar potensi mencengangkan dari sektor digital nasional. Indonesia saat ini tercatat sebagai pasar Artificial Intelligence (AI) potensial terbesar ke-4 di Asia setelah Tiongkok, India, dan Jepang, dengan nilai pasar menembus USD 70 miliar atau mewakili 6,4% dari potensi pasar AI regional.
Sadar pertumbuhan ini butuh tulang punggung infrastruktur yang kokoh, Indonesia kini sudah mengoperasikan 182 data center, dengan sebaran terbesar berada di Jakarta (94 data center) dan Batam (16 data center).
Agar jaringan listriknya tetap hijau dan berkelanjutan, pemerintah menargetkan pasokan hingga 100 GW dari kapasitas energi surya dan campuran energi terbarukan dalam beberapa dekade ke depan.
Konektivitas global pun makin mantap dengan optimalisasi jalur kabel serat optik strategis.
“Dari fiber optic itu kita punya landing point ke regional countries, seperti dengan Singapura itu akan ada peresmian juga kerja sama landing point yang poin ke-3 atau ke-4 di Batam dan Singapura. Di samping itu, kita juga punya landing point di Bitung untuk ke Amerika, jadi itu sangat potensial untuk pengembangan data center,” tutur Airlangga.
Senjata ekonomi RI berikutnya menyasar industri semikonduktor global yang permintaannya diproyeksikan meroket hingga USD 1 triliun pada 2030. Indonesia menargetkan swasembada chip semikonduktor melalui pengembangan desain serta kemampuan Perakitan, Pengujian, dan Pengemasan (ATP) di dalam negeri.
Daya tawar Indonesia di panggung dunia juga kian tebal. Berdasarkan survei Japan External Trade Organization (JETRO) tahun 2025, dunia bisnis Indonesia dinilai paling stabil dan paling menguntungkan (cuan) dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.
Demi memikat lebih banyak modal, RI bergerak agresif merampungkan beberapa Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA), memajukan proses aksesi OECD, serta menempatkan aksesi ke CPTPP sebagai prioritas strategis utama.
Airlangga pun secara khusus meminta kerja sama para Duta Besar asing untuk mengawal realisasi berbagai nota kesepahaman (MoU) investasi yang dirintis dalam kunjungan kerja Presiden Prabowo.
Gayung bersambut, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya N. Bakrie, menegaskan bahwa diplomasi tingkat tinggi ini tidak akan berarti tanpa eksekusi nyata dari dunia usaha. Menurutnya, kesepakatan antarpemerintah harus diubah menjadi perdagangan konkrit, investasi, dan pembukaan lapangan kerja baru.
“Bagi Indonesia, ini berarti diplomasi ekonomi tidak lagi dapat terpisah dari dunia usaha. Hubungan antar Pemerintah membutuhkan eksekusi antar bisnis di baliknya. Kadin Indonesia siap menjadi jembatan antara Pemerintah, dunia usaha, kamar dagang daerah, dan mitra internasional kita,” pungkas Anindya.












