banner 728x250

Gagas ‘Pertaubatan Nasional Ekologis’, Menteri LH Gandeng Siaga Bumi Selamatkan Lingkungan

Gerakan moral lintas agama yang tergabung dalam Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi) melakukan audiensi resmi dengan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup, Kuningan, Jakarta, pada Jumat (12/6). (Foto: Antara)

ABNnews – Kementerian Lingkungan Hidup (LH) tengah menyiapkan gebrakan agenda besar yang dinamakan “Pertaubatan Nasional Ekologis”.

Guna memuluskan program strategis tersebut, Menteri LH Jumhur Hidayat merangkul gerakan moral lintas agama yang tergabung dalam Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi) demi membendung ancaman krisis lingkungan di tanah air.

Kolaborasi ini tercetus usai rombongan Siaga Bumi melakukan audiensi resmi dengan Menteri LH di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup, Kuningan, Jakarta, pada Jumat (12/6).

Pertemuan strategis tersebut menghasilkan kesepahaman kuat mengenai pentingnya pendekatan budaya dan persuasi religius dalam mengatasi ancaman keruntuhan ekologis (ecological collapse).

Dalam audiensi tersebut, Menteri LH tampak didampingi oleh Sekretaris Kementerian beserta jajaran staf khusus dan deputi. Sementara itu, rombongan Siaga Bumi dipimpin langsung oleh Pemrakarsa sekaligus Ketua Komite Pengarah Siaga Bumi, Prof. Din Syamsuddin.

Pada kesempatan itu, Din Syamsuddin memaparkan sejarah panjang Siaga Bumi yang didirikan sejak tahun 2015 sebagai wadah gerakan moral inklusif umat beragama.

Gerakan ini disokong penuh oleh delapan unsur Inter-Religious Council (IRC) Indonesia, meliputi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), serta representasi dunia akademik seperti Universitas Nasional.

“Siaga Bumi telah bergerak melalui berbagai program konkret, salah satunya adalah gerakan Eco Rumah Ibadah. Program ini berfokus pada pengasrian fisik dan lingkungan di sekitar rumah-rumah ibadah, manajemen air yang berkelanjutan, serta manajemen sampah,” tutur Din Syamsuddin.

Merespons pemaparan tersebut, Menteri LH Jumhur Hidayat menyambut baik dan mengapresiasi tinggi konsistensi yang ditunjukkan oleh Siaga Bumi. Jumhur mengungkapkan, agenda “Pertaubatan Nasional Ekologis” yang digagasnya bukan sekadar jargon, melainkan mencakup aksi nyata berskala besar.

Aksi tersebut mulai dari reforestasi melalui penanaman 2 miliar pohon hingga pendataan ketat terhadap industri-industri nakal yang merusak lingkungan. Jumhur menegaskan bahwa di balik ngerinya ancaman krisis ekologis saat ini, terselip peluang besar yang muncul dari semangat kebersamaan.

“Semua pihak yang beragam lintas agama, lintas negara, lintas profesi, dan lintas keahlian—kini dapat bersatu karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab moral pada isu lingkungan hidup,” ungkap Jumhur Hidayat.

Ia blak-blakan mengakui bahwa birokrasi pemerintahan membutuhkan asupan rekayasa sosial berbasis keagamaan agar pesan-pesan penyelamatan bumi bisa menyentuh akar rumput.

“Kami di Kementerian LH sangat merasa perlu adanya rekayasa sosial dan persuasi religius untuk mempengaruhi sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap lingkungan,” sambungnya.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, kedua belah pihak sepakat menguliti akar masalah utama dari krisis ekologis saat ini, yakni perkara budaya dan gaya hidup manusia.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses pembudayaan baru yang dilakukan secara simultan, baik melalui langkah cepat yang responsif maupun edukasi mendalam secara perlahan.

Sebagai tindak lanjut konkret dari audiensi ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Siaga Bumi berkomitmen penuh untuk menjalin kerja sama formal serta saling bahu-membahu mewujudkan sinergi nyata dalam upaya penyelamatan serta pemuliaan lingkungan hidup di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *