ABNnews – Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy, menyentil balik pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda terkait tudingan yang mengaitkan masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) dengan perilaku barbar.
Vasco menilai pandangan miring tersebut tidak berdasar dan menyebut kacamata sang pengkritiklah yang sebenarnya sedang miring dan retak dalam melihat realitas.
Politikus Partai Gerindra ini menegaskan bahwa melabeli masyarakat Minangkabau sebagai barbar jelas-jelas mengabaikan fakta sejarah yang ada. Menurutnya, Sumbar merupakan tanah pusaka yang telah melahirkan begitu banyak tokoh bangsa, pemikir besar, dan pemimpin yang berkontribusi raksasa bagi kemerdekaan Indonesia.
“Pernyataan yang menyebut Sumatera Barat sebagai barbar tentu bukan hanya keliru, tapi juga menyederhanakan sebuah peradaban yang dibangun dari nilai, adat, dan sejarah panjang,” ujar Vasco dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Vasco menilai, penilaian serampangan terhadap daerah yang kaya akan adat, tradisi budaya, serta nilai-nilai agama seperti Sumbar terasa sangat menggelitik.
Ia menyebut tuduhan itu justru mencerminkan kondisi psikologis dari si pelempar kritik sendiri, bukan realitas riil masyarakat Minang.
“Kadang yang melihat segala sesuatu tampak barbar bukan karena objeknya, tapi karena kacamatanya yang sedang miring dan retak. Apalagi sampai berpikir Sumbar barbar. Menurutmu, apanya yang miring dan retak?” kelakar Vasco menyentil pihak yang melempar tuduhan tersebut.
Mengantisipasi adanya kegaduhan yang meluas, Vasco mengimbau seluruh lapisan masyarakat Sumbar untuk menyikapi polemik ini dengan kepala dingin. Ia meminta warga tidak mudah larut dalam riak provokasi di jagat maya.
Menurut Vasco, respons kemarahan yang berlebihan justru akan memberikan panggung cuma-cuma bagi pihak yang sengaja memanen kontroversi demi menjaga relevansi mereka di media sosial.
“Jadi kalau ditanya ke saya, menanggapi orang seperti ini ya cukup senyum saja, maksimal ketawain deh, tapi cukup di dalam hati. Ada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita besarkan,” tuturnya secara bijak.
Lebih lanjut, Wagub Sumbar ini mengingatkan kembali esensi luhur masyarakat Minang yang sejak dahulu kala memegang teguh falsafah hidup Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Nilai warisan leluhur ini telah lama mengajarkan kedewasaan sosial, kemandirian lewat tradisi merantau, serta prinsip kokoh untuk selalu menghormati aturan hukum di mana pun berada. Hal itu tercermin jelas lewat keyakinan heroik, ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’.













