banner 728x250

Gus Ipul Ngamuk! 11 Ribu Penerima Bansos Dicoret Gara-gara Main Judi Online

Mensos Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). (Foto: Kemensos)

ABNnews – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengambil langkah tegas terhadap penerima bantuan sosial (bansos) yang bandel.

Tak tanggung-tanggung, lebih dari 11 ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dicoret dari daftar karena terindikasi menggunakan dana bantuan untuk bermain judi online (judol).

Gus Ipul mengungkapkan bahwa pembersihan data ini dilakukan sepanjang triwulan pertama tahun 2026 berdasarkan hasil pemadanan data yang akurat.

Gus Ipul menjelaskan, pada triwulan pertama 2026, pihak Kemensos telah mencoret belasan ribu nama yang terbukti menyalahgunakan dana bantuan. Langkah ini terus berlanjut hingga triwulan kedua tahun ini.

“Untuk tahun 2026 ini ada 11.000 lebih yang kami coret di triwulan pertama dan untuk triwulan kedua itu ada 75 KPM yang kami coret,” tegas Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Kabar baiknya, jumlah penerima bansos yang terlibat judi online diklaim menurun tajam jika dibandingkan tahun lalu yang sempat menyentuh angka fantastis, yakni 600 ribu penerima. Gus Ipul menilai ini sebagai progres yang luar biasa dalam pembenahan data kemiskinan.

“Kesimpulannya adalah bahwa ini sudah ada penurunan yang luar biasa. Dari 600.000 tinggal 11.000… di triwulan kedua ini menyisakan 75 keluarga, itu pun sudah kita coret,” ucapnya.

Meskipun sebelumnya pemerintah sempat memberikan ‘kesempatan kedua’ bagi sebagian penerima yang dinilai sangat membutuhkan setelah melalui kroscek lapangan, kini Gus Ipul memasang barikade tinggi. Tidak akan ada toleransi lagi bagi mereka yang masuk ke dalam ‘garis merah’.

“Kalau mengulangi lagi, akan kita coret selamanya,” kata Gus Ipul. Ia menegaskan bahwa pendampingan terus diperketat agar dana bansos benar-benar dimanfaatkan untuk urusan dapur, bukan untuk deposit slot.

Keberhasilan pelacakan ini tak lepas dari kerja sama apik antara Kemensos dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Tahun ini, Kemensos akan kembali menyerahkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk dikroscek oleh PPATK guna memantau aliran dana yang mencurigakan.

Gus Ipul menyebut mayoritas pelaku berasal dari kelompok ekonomi desil satu dan dua. Mirisnya, ada pula temuan di mana bantuan tersebut justru dimanfaatkan oleh pihak lain di luar penerima manfaat yang sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *