Salip Malaysia! Bandara Soekarno-Hatta Tembus Peringkat 2 Tersibuk di Asia Tenggara

Bandara Soekarno-Hatta (Foto dok Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata)

ABNnews – Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, sukses melesat dan menempati peringkat kedua bandara tersibuk di Asia Tenggara pada Juli 2026. Capaian ini berhasil menyalip posisi Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) di Malaysia.

Berdasarkan laporan penyedia data penerbangan dunia, Official Airline Guide (OAG), kapasitas kursi penerbangan terjadwal di Bandara Soekarno-Hatta menembus angka 3,32 juta kursi pada Juli 2026.

Torehan ini menempatkan Soekarno-Hatta tepat di bawah Bandara Changi Singapura yang masih memimpin di posisi puncak dengan kapasitas 3,56 juta kursi.

“Jakarta, Indonesia, menjadi bandara tersibuk kedua dengan kapasitas 3,3 juta kursi, meningkat 3,2 persen dibandingkan Juli 2025,” tulis OAG dikutip Selasa (4/8/2026).

Kapasitas kursi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta tumbuh 3,2 persen dari Juli 2025 yang mencatatkan 3,22 juta kursi. Kondisi sebaliknya justru dialami KLIA Malaysia yang harus melorot ke peringkat ketiga dengan kapasitas 3,15 juta kursi, atau turun 4,4 persen dibanding tahun sebelumnya (3,30 juta kursi).

Perubahan tersebut membalikkan peta persaingan kedua bandara utama di kawasan ini. Pada Juli 2025, KLIA sempat memimpin dengan selisih sekitar 80.000 kursi di atas Soekarno-Hatta. Namun setahun berselang, Bandara Soekarno-Hatta justru balik memimpin jauh dengan selisih sekitar 170.000 kursi di atas KLIA.

Sementara itu, di bawah posisi KLIA, Bandara Suvarnabhumi Bangkok membuntut di peringkat keempat dengan 3,14 juta kursi, disusul Bandara Ninoy Aquino Manila di posisi kelima dengan 2,58 juta kursi.

Penurunan posisi KLIA tidak lepas dari penyesuaian industri penerbangan di Malaysia sepanjang pertengahan tahun 2026. Data Malaysia Airports mencatat jaringan bandaranya melayani 7,6 juta pergerakan penumpang pada Juni 2026, yang terdiri dari 4,1 juta penumpang internasional dan 3,5 juta penumpang domestik.

Pergerakan penumpang tersebut mengalami perlambatan jika dibandingkan bulan sebelumnya. Sejumlah maskapai di Malaysia terpaksa mengoptimalkan rute dan armada guna merespons lonjakan harga bahan bakar, dinamika permintaan, serta ketidakpastian geopolitik global.

Dampaknya meluas ke pasar penerbangan domestik Malaysia, seperti wilayah Sabah yang mencatatkan penurunan pergerakan penumpang sebesar 7,1 persen selama semester I-2026. Tren penurunan serupa juga terjadi di Penang, Langkawi, dan beberapa bandara sekunder lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *