ABNnews – Pemerintah terus memperkuat fondasi perekonomian nasional demi mengantisipasi tingginya ketidakpastian global sekaligus mempercepat pelaksanaan kebijakan prioritas Presiden.
Berbagai langkah strategis dijalankan, mulai dari penutupan ratusan anak-cucu BUMN yang tak efisien, pembentukan Bank Emas, hingga percepatan hilirisasi industri.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan bahwa penguatan sektor strategis ini diarahkan untuk mendongkrak kapasitas produksi, menarik investasi, dan menciptakan sumber pertumbuhan baru bagi masyarakat.
“Pemerintah terus memastikan momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga melalui penguatan fundamental ekonomi dan percepatan kebijakan prioritas. Berbagai langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat investasi, serta menciptakan sumber pertumbuhan baru yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas,” ungkap Haryo Limanseto di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Langkah ini menjadi makin krusial mengingat prospek ekonomi dunia masih diintai risiko geopolitik, fluktuasi energi, serta kendala perdagangan dan pembiayaan.
Kendati demikian, kinerja ekonomi domestik tetap solid dengan pertumbuhan 5,45 persen pada Semester I-2026, inflasi terjaga di angka 2,88 persen, serta realisasi investasi yang menembus Rp 1.010,6 triliun (tumbuh 7,2 persen YoY).
Di sektor kelembagaan, perombakan besar-besaran terus digencarkan pada BUMN. Dari total 1.074 BUMN beserta anak dan cucu usahanya, sebanyak 290 perusahaan telah resmi ditutup. Pemerintah menargetkan jumlah BUMN menyisa maksimal 300 perusahaan saja demi meningkatkan efisiensi dan kontribusi ke negara.
Hasil dari efisiensi tersebut terbukti manis. Laba bersih BUMN melonjak signifikan dari Rp 186 triliun pada 2024 menjadi Rp 326 triliun pada 2025, atau tumbuh pesat 75,3 persen.
Guna mengamankan pengelolaan sumber daya alam, pemerintah mengembangkan Bank Emas yang dikelola oleh Pegadaian dan BSI (Bank Syariah Indonesia). Hingga saat ini, Bank Emas telah mengelola 153 ton emas dengan nilai taksiran mencapai Rp 360 triliun (USD 20 miliar).
Di samping itu, PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) dalam 2 bulan 13 hari masa operasionalnya berhasil mengelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) senilai USD 14 miliar dari tiga komoditas strategis. DSI juga memantau lebih dari 6.500 transaksi ekspor demi mencegah praktik under invoicing dan transfer pricing.
Dalam hal penguatan rantai pasok, pemerintah telah melakukan groundbreaking pada 26 proyek hilirisasi hingga 2026. Proyek ini mencakup pengolahan batu bara menjadi DME, hilirisasi tembaga dan emas, garam industri, pemrosesan alumina menjadi aluminium, hingga pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy) yang siap menyerap puluhan ribu tenaga kerja.
Menyongsong tahun 2027, pemerintah menyiapkan sepuluh agenda transformasi besar untuk memacu pertumbuhan ekonomi menuju target 8 persen. Program tersebut meliputi renovasi 10.000 Puskesmas, revitalisasi 441 RSUD, renovasi sekolah, pembentukan Bursa Komoditas Indonesia, optimalisasi aset BUMN, pengembangan 100 GW energi surya, Pusat Finansial Internasional Indonesia di Bali, Danantara Development Management Fund, elektrifikasi mobilitas rakyat, hingga kebijakan dwi-kewarganegaraan.
“Berbagai agenda transformasi yang disiapkan untuk 2027 merupakan bagian dari upaya Pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih produktif dan berkelanjutan. Melalui penguatan sektor strategis dan peningkatan daya saing, Pemerintah ingin memastikan pertumbuhan ekonomi semakin tinggi sekaligus semakin inklusif,” tutup Haryo.












