ABNnews – Tangis histeris seorang ibu yang terpisah dari anaknya mewarnai proses evakuasi 62 korban selamat kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di Dermaga Pelabuhan Pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Senin (3/8/2026).
Puluhan penyintas tersebut tiba setelah diangkut menggunakan kapal tunda TB Hasnur 26 dari titik penyelamatan di perairan utara Sumenep.
Petugas Tagana Posko Terpadu Polda Jawa Timur dan Polres Sumenep, Yono, membenarkan kedatangan puluhan korban selamat tersebut di Masalembu.
“Benar, sebanyak 62 korban dievakuasi ke Pelabuhan Masalembu menggunakan TB Hasnur 26,” ujar Yono, Senin (3/8/2026).
Setibanya di pelabuhan, para korban langsung mendapatkan penanganan darurat dari petugas gabungan. Sebagian ditempatkan di area dermaga, sementara lainnya dibawa ke Kantor Kecamatan Masalembu serta Puskesmas Masalembu untuk penanganan medis dan tempat beristirahat.
Ibu yang mengalami syok berat tersebut bernama Lastri. Ia terus menangis histeris karena kehilangan dan terpisah dari sang buah hati saat proses penyelamatan dari kapal yang terbakar.
Petugas kesehatan Puskesmas Masalembu, Murdiah, mengonfirmasi bahwa Lastri kini menjalani perawatan intensif bersama suaminya, Soleh, seorang sopir asal Surabaya.
“Korban yang dirawat bernama Lastri bersama suaminya Soleh. Saat ini, kondisinya masih dalam penanganan karena mengalami histeris akibat kehilangan anaknya,” terang Murdiah.
Berdasarkan data dari Direktur Polairud Polda Jawa Timur hingga Senin (3/8/2026), sebanyak 238 penumpang telah berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, musibah ini mengakibatkan 5 orang meninggal dunia.
Petugas gabungan kini berpacu dengan waktu untuk mencari 28 penumpang yang masih belum ditemukan dari total 271 penumpang yang terdaftar dalam manifes kapal.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Polairud Polda Jatim, Basarnas, TNI AL, KPLP, Polres Sumenep, hingga relawan terus memperluas area penyisiran di perairan utara Sumenep.
Selain fokus pencarian korban, petugas juga melakukan identifikasi, pendataan penumpang, serta memberikan pendampingan psikologis (trauma healing) bagi para penyintas.












