banner 728x250

Warga Pertimbangkan Beralih Pertalite akibat Harga Pertamax Naik

ABNnews –Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax mulai dirasakan sejumlah warga di Jakarta Selatan. Warga mempertimbangkan beralih ke Pertalite guna menekan pengeluaran harian.

“Saya kaget karena enggak ada informasi sebelumnya. Tahu-tahunya tadi pagi dari media sosial kalau harga Pertamax naik. Kenaikannya juga lumayan tinggi, hampir Rp4.000,” kata warga Kebayoran Baru, Risky (25), di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) kawasan Radio Dalam, Jakarta, Rabu (10/6/2026), dilansir dari Antara.

Risky mengaku terkejut setelah mengetahui harga Pertamax naik secara signifikan mulai Rabu. Ia mengetahui informasi tersebut melalui media sosial pada pagi hari.

Diketahui, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026.

Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Meski masih menggunakan Pertamax untuk saat ini, Risky mengaku tidak menutup kemungkinan ia beralih ke Pertalite apabila harga BBM non-subsidi tersebut bertahan pada level yang lebih tinggi dalam waktu lama.

“Saat ini masih pakai Pertamax dulu karena dari awal motor memang isi Pertamax. Tapi kalau kondisinya seperti ini terus, mau enggak mau bisa beralih ke Pertalite,” ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga BBM akan berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga karena dirinya setiap hari menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian dari Kebayoran Baru menuju Tangerang Selatan.

“Pasti berpengaruh, apalagi kondisi penghasilan sekarang. Karena setiap hari harus isi BBM, jadi lumayan berdampak ke kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Pantauan ANTARA di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) kawasan Radio Dalam, Kebayoran Baru, tampak antrean kendaraan lebih banyak terjadi di bagian Pertalite dibandingkan Pertamax.

Sejumlah pengendara tampak mengantre untuk mengisi Pertalite, sementara antrean di Pertamax relatif lebih sedikit.

Kondisi tersebut mengindikasikan sebagian masyarakat mulai menyesuaikan pilihan BBM di tengah kenaikan harga bahan bakar non-subsidi.

Nadzar Lendi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *