banner 728x250

Beban Subsidi Bengkak, Pramono Anung Bakal Naikkan Tarif Transjabodetabek Bulan Ini!

Ilustrasi. Transjabodetabek.(Kompas.com/ Ruby Rachmadina)

ABNnews – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memberi sinyal kuat bakal menaikkan tarif sejumlah rute Transjabodetabek dalam bulan ini.

Langkah penyesuaian ongkos ini terpaksa diambil lantaran beban subsidi yang dipikul Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dinilai sudah bengkak alias terlalu besar.

Salah satu rute utama yang dipastikan bakal mengalami kenaikan tarif adalah Transjabodetabek koridor Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

“Untuk tarif Transjabodetabek Blok M-Soekarno Hatta, segera akan kami putuskan. Pada bulan-bulan ini kita akan memutuskan beberapa rute, bukan hanya Blok M ke Soekarno-Hatta, tetapi juga Transjabodetabek lainnya yang perlu penyesuaian,” jelas Pramono Anung saat dijumpai awak media di kawasan Jakarta Timur, Jumat (5/6/2026).

Pramono menegaskan bahwa koreksi tarif ini mendesak untuk segera dieksekusi demi menyehatkan postur anggaran. Meski demikian, politikus senior tersebut masih enggan merinci lebih jauh mengenai daftar rute Transjabodetabek mana saja di luar rute bandara yang akan ikut dikerek tarifnya dalam waktu dekat.

Sebagai informasi, Pemprov DKI Jakarta resmi meluncurkan rute baru Transjabodetabek berkode SH2 dengan trayek Blok M-Bandara Soekarno Hatta pada 12 Maret 2026 lalu.

Sejak awal peluncurannya, Pramono memang telah menargetkan untuk mengevaluasi skema tarif setelah rute ini menggelinding selama tiga bulan sebagai masa uji coba.

Pramono blak-blakan mengakui nilai subsidi yang digelontorkan dari APBD DKI untuk menjaga tarif rute tersebut tetap murah ternyata memakan biaya yang cukup besar. Sebagai solusinya, Pemprov DKI kini berencana membahas penyesuaian tarif ke depan dengan kisaran angka menjadi Rp 10.000 atau Rp 15.000.

Lebih lanjut, Pramono membeberkan ada beberapa faktor teknis yang membuat ongkos Transjabodetabek ke bandara tersebut harus segera disesuaikan, mulai dari spesifikasi armada hingga biaya operasional di area bandara yang tinggi.

“(Alasannya) Pertama, karena ini rutenya panjang, busnya baru dan khusus untuk itu, sehingga perlu biaya yang harus dikeluarkan, dan juga di Terminal 1, 2, 3 tentunya bus parkir itu nggak gratis, ada biaya-biaya yang harus ditanggung,” pungkas Pramono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *