Kejar ‘Golden Moment’ Ekonomi Digital, Indonesia Gandeng Arm Cetak 15 Ribu Insinyur!

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat membuka Digital Transformation Indonesia (DTI) Series 2026 di Jakarta Convention Centre, Rabu (5/08).

ABNnews – Pemerintah Indonesia terus bergerak cepat memanfaatkan momentum emas (golden moment) pengembangan ekonomi digital nasional.

Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan teknologi global, Arm, untuk mencetak 15.000 insinyur (engineers) spesialis dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

Langkah ini dilakukan guna memperkuat ekosistem industri semikonduktor serta talenta digital dalam negeri agar mampu bersaing di rantai nilai global.

“Ini adalah the golden moment. Dan saya juga ingatkan golden moment ini tidak lama. Kita harus kejar dalam tiga sampai empat tahun ke depan, karena inilah kesempatan bagi Indonesia,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat membuka Digital Transformation Indonesia (DTI) Series 2026 di Jakarta Convention Center, Rabu (5/8/2026).

“Apakah Indonesia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut, apakah Indonesia bisa menjadi terang dari sisi digital. Untuk mewujudkannya, kita membutuhkan energi. Dengan energi kita dapat memperkuat digitalisasi, mendorong manufaktur, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memastikan keamanan siber tetap terjaga,” tegasnya.

Airlangga menjelaskan, pencaipaan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen membutuhkan mesin pertumbuhan baru (new growth engine). Selain pencetakan belasan ribu insinyur, pilar utama lainnya bertumpu pada pengembangan pusat data (data center), kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), serta industri semikonduktor.

Tak hanya menggandeng Arm, Pemerintah juga berencana membuka kampus Indian Institute of Technology (IIT) di Indonesia guna menggembleng SDM digital berkualitas tinggi.

Selain itu, ketahanan makroekonomi nasional yang tegap menjadi modal kuat percepatan ini.

“Ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh berbagai indikator makro yang tetap terjaga, di antaranya pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata global, inflasi yang terkendali pada level 2,88%, serta terus meningkatnya investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja,” tutur Airlangga.

Lebih lanjut, Menko Airlangga menekankan bahwa teknologi mutakhir seperti data center, quantum computing, dan AI membutuhkan sokongan pasokan energi domestik yang solid.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan kompetitif untuk pengembangan pusat data kawasan karena didukung ketersediaan lahan, potensi energi surya, pasokan air, serta konektivitas serat optik maupun satelit yang terus meluas.

Di panggung internasional, Indonesia aktif memperkuat posisi tawar ekonomi digitalnya. Pemerintah membidik ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) sebagai perjanjian multilateral ekonomi digital pertama di dunia, yang berpotensi melejitkan nilai ekonomi digital ASEAN hingga USD 2 triliun pada tahun 2030.

Indonesia juga resmi bergabung sebagai negara pendiri World AI Cooperation Organization (WAICO) untuk mengawal tata kelola AI global.

Sementara itu, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menggarisbawahi bahwa transformasi digital saat ini merupakan strategi utama penguat struktur ekonomi nasional.

“Yang sedang dibangun Pemerintah bukan hanya ekonomi digital, tetapi ekosistem investasi digital. Ketika pusat data berkembang, kebutuhan komputasi AI akan meningkat, industri semikonduktor ikut tumbuh, dan pada saat yang sama tercipta permintaan terhadap talenta digital nasional. Keterhubungan inilah yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai nilai digital global,” pungkas Haryo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *