banner 728x250

Geger Dugaan Pencabulan Massal di Ponorogo: Santri Laki-laki Dicabuli, yang Perempuan Dipukuli?

Video penangkapan diduga kiai Jambon, Ponorogo yang viral di media sosial (Foto: Dok. Istimewa)

ABNnews – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video amatir yang merekam detik-detik menegangkan dugaan penjemputan paksa seorang kiai di Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Pimpinan pondok pesantren tersebut dilaporkan ke polisi atas dugaan pencabulan terhadap belasan santri laki-laki.

Dalam video viral yang beredar, tampak sang kiai yang mengenakan peci putih, baju oranye, dan kain sarung tengah berdiri di teras rumahnya. Di hadapannya, puluhan personel kepolisian berseragam lengkap dan berpakaian kaus hitam khas buser sudah mengepung dan siap membawanya.

Suasana berubah dramatis saat pihak keluarga perempuan yang diduga istri sang kiai menangis histeris. Ia sempat memeluk erat tubuh suaminya tersebut seolah menolak penangkapan sebelum petugas melakukan tindakan.

“Detik-detik penjemputan kyai di Jambon dugaan pencabulan belasan santri laki laki,” bunyi keterangan video viral tersebut, Selasa (19/5/2026).

Dugaan kasus asusila yang mencoreng institusi pendidikan agama ini dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Imam Mujali. Imam menyebut, penanganan kasus ini bermula dari aduan darurat warga pada dini hari.

“Benar, kami mendapatkan informasi dari masyarakat terkait adanya dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur di Ponorogo. Laporan masuk lewat call center 110 pada Selasa (19/5) subuh pukul 03.00 WIB,” kata Imam kepada wartawan.

Pihak Jatanras Polres Ponorogo langsung dikerahkan ke lokasi di wilayah Jambon untuk melakukan olah TKP awal dan mengumpulkan bukti-bukti. Kendati videonya sudah viral, Imam meluruskan bahwa status sang kiai belum resmi ditahan.

“Terduga pelaku belum kami amankan (secara resmi). Masih kami lakukan konfirmasi dan koordinasi, prosesnya masih tahap awal. Kami juga masih mendalami jumlah pasti korbannya karena laporan baru masuk tadi pagi,” jelas Imam.

Di pihak lain, Muhammad Ihsan Nurul Huda selaku kuasa hukum para korban membongkar borok di dalam pesantren tersebut. Ihsan menyebut aksi bejat ini terendus setelah salah satu santri laki-laki yang kabur berani bersuara.

Tak main-main, Ihsan langsung memboyong 11 korban ke Mapolres Ponorogo untuk menjalani pemeriksaan psikologis dan visum.

“Terlapor merupakan seorang kiai atau pimpinan pondok tersebut. Dan korbannya merupakan santri yang tinggal di dalam pondok. Dari 11 korban yang kami dampingi, enam di antaranya masih anak-anak di bawah umur dan sisanya dewasa. Semuanya santriwan (laki-laki),” beber Ihsan.

Berdasarkan pengakuan para korban, praktik menyimpang ini ternyata bukan barang baru. Sang kiai diduga sudah melancarkan aksi bejatnya selama hampir 9 tahun atau sejak tahun 2017 silam.

Modus yang digunakan pelaku terbilang rapi. Pelaku memanfaatkan statusnya sebagai pimpinan pondok untuk mendikte para santri yang rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu.

“Para santri ini awalnya tertarik mondok di sana karena sekolahnya gratis. Modusnya, para santri ini biasanya dipanggil satu per satu ke kamar, kemudian disuruh memijat Kiai. Di sanalah terjadi pelecehan,” ungkap Ihsan.

Lebih mengejutkannya lagi, dari total 19 santri laki-laki dan 18 santri perempuan yang bermukim di sana, kekejaman pelaku tidak hanya menyasar santriwan.

“Santri perempuan tidak pernah mendapat kekerasan seksual, tetapi mereka kerap mendapat kekerasan fisik (penganiayaan),” tambahnya.

Saat ini, pihak keluarga korban yang berasal dari Ponorogo hingga Jawa Tengah menegaskan menolak jalur damai dan mendesak kepolisian menjebloskan sang kiai ke dalam penjara. Kasus ini sedang ditangani secara intensif oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Ponorogo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *