ABNnews – AirNav Indonesia terus tancap gas dalam memperkuat layanan navigasi penerbangan di kancah internasional. Kali ini, AirNav menggandeng raksasa navigasi Singapura, Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS), untuk memperkuat kolaborasi strategis pengelolaan lalu lintas udara di kawasan Asia Pasifik.
Pertemuan tingkat tinggi ini digelar langsung di Kantor Pusat AirNav Indonesia, Tangerang, Banten, pada Jumat (8/5/2026). Kerja sama ini dilakukan demi menjawab tantangan lonjakan trafik udara yang diprediksi bakal makin “gemuk” dalam dua dekade ke depan.
Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, membeberkan bahwa pembahasan dengan delegasi Singapura difokuskan pada sejumlah teknologi mutakhir. Salah satunya adalah implementasi Cross-Border Extended Arrival Flow Management (FlexMAN).
Teknologi ini bukan sembarang sistem, karena diklaim mampu meningkatkan prediktabilitas kedatangan pesawat hingga menekan konsumsi bahan bakar atau avtur. Jadi, arus lalu lintas udara lintas negara bisa dikelola secara terintegrasi sejak fase awal penerbangan.
“Situasi (pertumbuhan trafik) menghadirkan tantangan baru, berupa meningkatnya kompleksitas ruang udara hingga tuntutan efisiensi dan keberlanjutan operasional penerbangan,” ungkap Avirianto.
Tak hanya sekadar rapat di atas meja, delegasi CAAS Singapura yang dipimpin oleh Senior Director NextGen Programme Office Tan Kah Han juga menyempatkan diri mengintip langsung fasilitas kelas dunia milik Indonesia.
Mereka meninjau Indonesia National Air Navigation Center (INMC) serta mengunjungi lokasi New Jakarta Air Traffic Service Center (New JATSC). Fasilitas New JATSC sendiri saat ini tengah dalam tahap finalisasi implementasi sistem Air Traffic Management System (ATMS) yang lebih modern.
Avirianto menegaskan bahwa pengelolaan ruang udara ke depan tidak bisa lagi dilakukan sendirian. Dibutuhkan interoperabilitas sistem dan koordinasi lintas negara yang kuat agar langit Asia Pasifik tetap aman.
“Pengelolaan lalu lintas udara ke depan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi regional yang kuat agar ruang udara Asia Pasifik dapat dikelola secara lebih aman, efisien, dan berkelanjutan,” tegasnya.













