banner 728x250

Investasi Rp 418 Triliun Guyur Industri RI, 219 Ribu Loker Baru Siap Menanti!

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief (Foto: Kemenperin)

ABNnews – Kabar gembira bagi dunia ekonomi dan pencari kerja di tanah air! Sektor industri manufaktur Indonesia tengah kedatangan “hujan” investasi.

Memasuki awal tahun 2026, sektor manufaktur tanah air kembali menunjukkan taringnya sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Tak tanggung-tanggung, berdasarkan data SIINas per 23 April 2026, tercatat ada 633 perusahaan industri yang melaporkan pembangunan fasilitas produksi baru di Triwulan I 2026. Nilai investasinya pun fantastis, mencapai Rp 418,62 triliun! Proyek jumbo ini diprediksi bakal menyerap tenaga kerja hingga 219.684 orang.

Pembangunan fasilitas produksi ini tersebar di berbagai subsektor strategis. Dari sisi jumlah perusahaan, subsektor makanan dan minuman masih menjadi magnet utama.
* Paling Banyak Perusahaan Baru:
* Industri Pengolahan Tembakau: 72 perusahaan.

* Industri Minuman: 67 perusahaan.

* Industri Makanan: 60 perusahaan.

* Investasi Paling Jumbo (Rp 218,04 T): Disabet oleh Industri Logam Dasar dengan 24 perusahaan. Ini menjadi sinyal kuat suksesnya hilirisasi mineral nasional.

* Penyerap Tenaga Kerja Terbanyak: Industri Kulit, Barang dari Kulit, dan Alas Kaki dengan rencana penyerapan 37.350 tenaga kerja.


Kinerja manufaktur RI memang sedang dalam performa terbaiknya. Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 lalu, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,30 persen.

Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,11 persen. Yang paling membanggakan, ini adalah kali pertama dalam 14 tahun terakhir pertumbuhan industri pengolahan berhasil menyalip pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh,” ujar Febri di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Di saat banyak negara kewalahan menghadapi ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, industri nasional justru mampu membuktikan resiliensinya.

Febri menyebut kesuksesan ini tak lepas dari kebijakan pro-industri, seperti reformasi TKDN, kebijakan non-tariff barrier, hingga perlindungan industri nasional dari gempuran produk impor.

Kemenperin kini fokus mengarahkan investasi ke sektor prioritas seperti industri kimia, farmasi, otomotif, hingga elektronika. Dengan dukungan sinergi antarlembaga dan arahan pemerintah, Kemenperin optimistis tren positif ini akan terus berlanjut sepanjang 2026.

“Di tengah situasi global yang tidak menentu, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat dan daya saing industri Indonesia terus meningkat,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *