ABNnews – Siapa bilang masak rendang atau gulai harus ribet dan lama? Di tangan Vianti Maghdalena, kerumitan itu disulap jadi ringkas lewat brand Wan Alan.
Usaha bumbu masakan instan asal Kota Padang Panjang ini sukses membuktikan bahwa produk UMKM lokal punya kualitas yang nggak main-main, bahkan sampai diakui pasar internasional.
Wan Alan hadir dengan konsep praktis namun tetap menjaga kesehatan karena diproduksi tanpa tambahan MSG. Bumbu rendang dan bumbu lengkuas jadi jagoan utamanya karena punya cita rasa autentik khas nusantara yang bikin rindu masakan rumah tanpa perlu proses memasak yang bikin pegel.
Perjalanan Vianti nggak semulus yang dibayangkan. Dimulai saat pandemi melanda, ia awalnya hanya membuat produk berbasis jahe. Namun, insting bisnisnya tajam. Ia beradaptasi mengikuti kebutuhan pasar yang pengen serba cepat tapi enak, hingga lahirlah varian bumbu soto, nasi goreng, hingga gulai yang kini diterima luas.
Kini, produknya nggak cuma ada di supermarket Sumatra Barat, tapi sudah merambah ke reseller, marketplace, hingga menembus pasar ekspor ke Inggris!
Naik Kelas Bareng BRI
Kesuksesan Wan Alan ternyata nggak lepas dari sentuhan pemberdayaan BRI. Lewat platform LinkUMKM dan Rumah BUMN Padang Panjang, Vianti digembleng soal branding, manajemen, hingga perluasan jaringan melalui program BRIncubator.
“Saya aktif karena saya banyak mendapat manfaat dari menambah ilmu terkait pemasaran, branding, manajemen, juga menambah jaringan sehingga produk saya bisa dikenal sampai sekarang,” ungkap Vianti.
Tak cuma soal ilmu, urusan transaksi pun kini makin praktis. Vianti memanfaatkan layanan QRIS dan tabungan BRI untuk memudahkan pelanggan setianya saat berbelanja di berbagai kanal penjualan.
Meski kini sudah sukses, Vianti tetap rendah hati. Baginya, tantangan harga bahan baku yang naik-turun adalah bumbu dalam berbisnis yang harus dihadapi dengan konsistensi. Ia punya prinsip kuat yang selalu dipegangnya teguh.
“Hasil yang hebat lahir dari dua hal: lutut yang bersimpuh dalam doa dan tangan yang lelah karena kerja keras. Jika salah satu hilang, langkah kita akan pincang,” tegasnya.
Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, menyebut bahwa apa yang dicapai Vianti adalah bukti nyata peran strategis perempuan dalam ekonomi. Hingga Maret 2026, lebih dari 15,57 juta UMKM telah memanfaatkan platform LinkUMKM untuk tumbuh berkelanjutan.
“BRI meyakini perempuan punya peran strategis mendorong pertumbuhan ekonomi. Lewat LinkUMKM, kami berkomitmen menghadirkan akses setara agar perempuan bisa berinovasi dan naik kelas hingga bersaing di pasar global,” pungkas Ety.













