ABNnews – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan banyak ‘setan’ yang mengganggu proyek hilirisasi pertambangan nikel Indonesia.
Hal tersebut diungkapkannya dalam acara BNI Investor Daily Summit di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (9/10/24).
“Bukan nggak ada setannya, ini setannya banyak sekali. Jadi waktu kami setop ekspor ore nikel saat saya masih Menteri Investasi, ini rayuannya di mana-mana paling banyak,” kata Bahlil.
Bahlil mengatakan, salah satu ‘setan’ yang mengganggu jalannya hilirisasi nikel pada saat Indonesia digugat Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Uni Eropa merayu Indonesia lantaran nikel masuk dalam kategori mineral kritis yang dibutuhkan sebagai bahan baku utama untuk transisi energi, salah satunya baterai kendaraan listrik.
“Saya cek kenapa mereka merayu kita sedemikian rupa. Ternyata nikel ini sekarang sudah masuk dalam kategori kritikal mineral dan dia bagian dari bahan baku untuk menuju kepada green energy, salah satunya mobil listrik,” tutur Bahlil.
Bahlil menuturkan, dalam pengembangan mobil listrik, nikel digunakan sebagai komponen primer pembuatan baterai kendaraan listrik, dengan komposisi yaitu 80 persen nikel, 15 persen cobalt, dan 5 persen alumunium.
Sehingga, kata Bahlil, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki kapabilitas untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu sampai hilir.
“Untuk membangun ekosistem baterai mobil di dunia yang terintegrasi dari hulu sampai hilir, dari mining, smelter, ekspor, prekursor, katoda, baterai sel, sampai mobil sampai recycle itu cuma ada di Republik Indonesia, tidak ada di negara lain,” paparnya.
Dengan Indonesia menghentikan ekspor nikel mentah sejak 2020, Bahlil menyebut telah membawa manfaat besar bagi kemajuan ekonomi nasional.
Hal itu dilihat dari perbandingan nilai ekspor bijih nikel pada 2017-2018 yang hanya US$ 3,3 miliar, melesat jika dibandingkan dengan nilai ekspor produk turunan nikel pada 2023 yang mencapai US$ 34,4 miliar.
“Kita memberikan target untuk ekspor kita 2024 kurang lebih hampir US$ 40 miliar dan untuk komoditas dari turunan hilirisasi nikel, kita sudah menjadi terbesar di pasar dunia. Ini sekarang yang terjadi,” tandasnyanya.













