ABNnews – Pengamat politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, memprediksi akan ada perkembangan besar dalam dua hingga tiga hari ke depan terkait skandal dugaan penyadapan terhadap Presiden RI Prabowo Subianto.
Ia menaksir sekitar 14 perwira tinggi (pati) berpotensi terseret menjadi tersangka, hingga adanya kemungkinan jajaran menteri dan komisaris yang bakal ditangkap.
“Saya sampai menghitung ketika tanggal 1, ini ada sekitar 14 perwira tinggi yang akan terseret, yang saya duga akan menjadi tersangka,” ungkap Selamat Ginting, Sabtu (7/11/2026).
Selamat meyakini Presiden Prabowo telah mengantongi peta keterlibatan para pelaku dari lembaga-lembaga strategis negara seperti BIN, Kapolri, Mabes TNI, hingga BSSN.
“Saya yakin presiden sudah tahu siapa-siapa saja yang terlibat. Dalam waktu dua tiga hari menurut saya akan ada juga menteri yang ditangkap, komisaris-komisaris ada yang ditangkap. Saya kira begitu,” tegasnya.
Di samping prediksi penangkapan tersebut, Selamat membeberkan kejanggalan krusial dalam daftar sekitar 6.000 nomor yang diduga disadap.
Menurutnya, daftar tersebut sama sekali tidak memuat nama-nama figur yang selama ini berada di lingkaran dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
“Yang dikemukakan dari enam ribuan daftar nama itu tidak ada KGB, Kaesang, Gibran, Bobby. Tidak ada orang-orang lingkaran dekat dari Presiden Jokowi, Pratikno, kemudian yang lainnya, tidak ada,” tuturnya.
Sebaliknya, Selamat menyoroti bahwa daftar peretasan justru dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang selama ini vokal dan dikenal kritis terhadap pemerintahan Jokowi.
“Yang ada adalah kita-kita yang suka hadir di sini. Ada tuh yang kontra dengan Jokowi misalnya. Itu ada apa? Kemudian Wapres Gibran juga tidak ada,” lanjut Selamat.
Atas rentetan indikasi tersebut, Selamat menilai kasus peretasan terhadap kepala negara ini bukan lagi sekadar perkara hukum biasa, melainkan bentuk kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang menyangkut keamanan nasional serta menyedot perhatian dunia internasional.
“Oleh karena itu kita harus melihatnya, ini bukan soal hukum semata, tetapi ini adalah kasus kejahatan luar biasa. Dunia juga melihat ini. Ini bukan isu nasional lagi, tetapi isu internasional,” ujarnya.
Guna menggambarkan besarnya daya rusak dan konsekuensi politik dari skandal ini, Selamat bahkan membandingkannya dengan peristiwa penangkapan sejumlah menteri pada era Presiden Soekarno pasca-Gerakan 30 September 1965.
Saat ditanya mengenai arah keterlibatan mantan Presiden Jokowi dalam perkara peretasan ini, Selamat membenarkan bahwa dirinya melihat adanya indikasi kuat yang bermuara ke sana.
Ia menilai pernyataan resmi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sejatinya merupakan cerminan dari suara dan informasi intelijen yang telah dipegang langsung oleh Presiden Prabowo.
“Ya, betul. Saya kira pernyataan dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo itu adalah suara dari presiden,” pungkasnya.












