ABNnews – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mempertegas komitmennya dalam mengawal ketahanan pangan nasional melalui pembiayaan ekosistem pangan yang menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Langkah strategis ini selaras dengan penguatan agenda swasembada protein nasional yang digalakkan pemerintah, mencakup sektor perikanan, peternakan, pemberdayaan UMKM, koperasi, hingga industri pengolahan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam ajang CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 bertajuk “Swasembada Protein di Tengah Tantangan Pangan Global” yang dihelat di Jakarta.
Forum strategis ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Yandri Susanto, Wakil Menteri Pertanian RI Saleh Mustafa, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya, serta jajaran pimpinan BUMN.
Dalam arahannya, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan menegaskan bahwa swasembada pangan bukan sekadar soal pemenuhan kebutuhan domestik, melainkan menyangkut kedaulatan penuh negara. Ia menekankan pentingnya keberpihakan nyata kepada para pelaku usaha di tingkat paling bawah, khususnya nelayan dan pembudidaya ikan.
“Nelayan, dia paling menderita, dia paling miskin, kami harus pikirkan dia dulu,” ujar Zulkifli Hasan dalam forum tersebut.
Dirinya juga menyoroti urgensi penyediaan infrastruktur pendukung seperti cold storage serta kemudahan akses pembiayaan agar produktivitas serta kesejahteraan mereka terdongkrak naik.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono memandang sektor perikanan sebagai tumpuan strategis pemenuhan protein masyarakat. Inovasi pengolahan hasil laut menjadi kunci agar produk pangan bernilai tambah semakin mudah diakses publik secara luas.
“Kalau dari ikan tidak usah ditanya, hampir seluruhnya,” ungkap Trenggono.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa BRI memiliki posisi tawar yang kuat dalam merajut ekosistem pangan. Pembiayaan yang disalurkan tidak hanya menyasar korporasi besar, tetapi menjangkau masyarakat yang baru merintis usaha lewat sinergi holding ultramikro.
“Kalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi. Ini yang membuat kami bisa melihat ekosistem secara lebih menyeluruh,” papar Akhmad.
Pendekatan ekosistem ini dinilai krusial lantaran kebutuhan pembiayaan sektor pangan merentang dari hulu seperti penyediaan benih, pakan, dan peningkatan kapasitas produksi hingga tahap pengolahan, pengemasan, modal kerja, sampai sektor hilir seperti distributor dan pedagang.
Sebagai contoh konkret, ekosistem peternakan sapi perah di Malang dibiayai secara terpadu oleh BRI; mulai dari peternak selaku produsen, dukungan koperasi berfasilitas cold storage, hingga pembiayaan bagi industri offtaker yang menyerap hasil produksi.
Dari sisi performa pembiayaan, hingga akhir Triwulan II 2026, total portofolio kredit BRI tercatat menyentuh angka Rp1.645 triliun, di mana sekitar 75,1% dialirkan khusus untuk segmen UMKM.
Khusus untuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada periode yang sama, sekitar 44% porsinya difokuskan pada sektor pertanian dan perikanan guna memperkokoh fondasi pangan nasional.
“Tidak boleh di bawah 75%, itu harus kepada UMKM,” tegas Akhmad mematok komitmen perbankan pelat merah tersebut.
Guna memastikan ketepatan sasaran, BRI mengerahkan sedikitnya 30 ribu tenaga pemasar lapangan yang terspesialisasi di berbagai bidang, mulai dari peternakan, perikanan, pertanian, hingga perdagangan.
“Dari awal kita sudah bisa masuk. Kita bisa membiayai dari hulu, kemudian prosesnya, sampai ke hilir. Jadi bukan hanya soal memberikan kredit, tetapi bagaimana pembiayaan itu bisa membuat ekosistem usahanya tumbuh,” pungkas Akhmad.












