Temukan Formula Panen 45 Hari, Pembudidaya Lele Asal Madura Sukseskan Ketahanan Pangan Nasional

Muzammil Andriansyah alias Haji Aan

ABNnews – Sosok Muzammil Andriansyah, pembudidaya lele yang akrab disapa Haji Aan, mengembangkan formula khusus pakan ikan yang diklaim mampu mempercepat masa panen menjadi 45 hari. Melalui Raja Lele Indonesia, ia berharap inovasi tersebut dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus membantu pembudidaya lele lainnya.

Inovasi yang dikembangkan bersama rekan-rekannya itu berawal dari kegemaran memelihara dan mengonsumsi ikan lele. Dari hobi tersebut, Haji Aan kemudian merintis usaha budidaya yang diharapkan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. “Tujuan utama kami pun sebetulnya untuk mendukung program ketahanan pangan pemerintah,” katanya, dikutip Senin, 2 November 2026.

Menurut Haji Aan, budidaya lele konvensional umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk panen. Sementara itu, metode yang dikembangkan Raja Lele Indonesia memungkinkan panen pertama pada usia 45 hari, disusul panen berikutnya pada usia 50 hari. Seluruh ikan dalam satu kolam ditargetkan selesai dipanen paling lambat pada usia 60 hari.
“Sebetulnya keunggulan utama dari kami itu kami menemukan inovasi suatu formula yang bisa membantu untuk percepatan usia panen lele jadi 45 hari. Itulah yang kami kembangkan,” ujarnya.

Selain mempercepat masa panen, formula khusus yang dicampurkan ke dalam pakan tersebut diklaim mampu menekan biaya produksi, terutama kebutuhan pakan selama pemeliharaan. “Dari segi pakan, antara tiga bulan dan 45 hari, kami sudah menang 50 persen dengan tambahan formula yang kami formulasikan ke pakan tersebut,” ungkapnya.

Pengusaha asal Madura itu menyebut penghematan biaya pakan dapat mencapai 50 persen dibandingkan budidaya dengan masa pemeliharaan sekitar tiga bulan. Raja Lele Indonesia menerapkan budidaya dengan kepadatan tinggi. Haji Aan menyebut kolam berukuran 6 x 10 meter dapat menampung sekitar 150.000 hingga 200.000 ekor lele.
Kepadatan tersebut membutuhkan pengelolaan kualitas air dan pemantauan kesehatan ikan secara konsisten agar produktivitas tetap terjaga.

Salah satu langkah yang diterapkan adalah menjalankan sirkulasi air selama 24 jam. Menurut dia, sistem tersebut bertujuan menjaga kebersihan kolam sekaligus mendukung kebutuhan pemeliharaan ikan. “Air 24 jam kami nonstop selalu ganti dengan sirkulasi karena kebutuhan lele, mineral diambil dari mineral air tersebut. Jadi kolam kami tetap selalu bersih dan higienis,” jelasnya.

Ia juga mengaku belum menerima keluhan dari masyarakat yang mengonsumsi lele hasil budidayanya. Sebaliknya, review positif acap datang terhadap lele hasil budidayanya. Salah satunya dari Anton Sujarwo, konsumen yang telah berkecimpung dalam usaha lele selama 12 tahun.

Anton mengaku baru menemukan budidaya lele dengan masa panen 45 hari di tempat tersebut. Ia menilai kualitas ikan yang dihasilkan tidak kalah dibandingkan produk dari pembudidaya lainnya. “Saya terjun di dunia lele itu sudah selama 12 tahun ini. Nah, saya baru menemukan lele dalam usia 45 hari bisa panen cuma ada di sini. Itu untuk kualitasnya juga enggak kalah sama pembudidaya-pembudidaya yang lain,” katanya.

Menurut Anton, kemampuan membudidayakan lele dengan kepadatan tinggi juga menjadi keunggulan yang menarik. “Di Jawa Timur setahu saya itu yang bisa budidaya lele dengan kepadatan tinggi cuma ada di sini,” ujarnya.
Dari sisi pasar, Anton mengatakan konsumen cenderung menyukai lele hasil budidaya tersebut karena dagingnya dinilai lebih tebal dan padat. “Nah, untuk konsumen itu lebih suka yang ini, karena dagingnya lebih tebal. Untuk kapasitas dagingnya itu lebih tebal, lebih padat daripada pembudidaya yang biasa-biasa aja,” tuturnya.

Jadi Manfaat Peternak Lain

Kedepan, Haji Aan berharap inovasi yang dikembangkan Raja Lele Indonesia dapat membantu pembudidaya lain meningkatkan efisiensi usaha. Ia juga menginginkan dukungan pemerintah agar metode tersebut bisa diterapkan di berbagai daerah. “Harapan kami ke depan, kami bisa membantu peternak-peternak yang lain, peternak-peternak lele yang lain,” katanya.

Ia menargetkan pembangunan satu titik budidaya di setiap provinsi di Indonesia. Selain memperluas jangkauan produksi, langkah tersebut diharapkan mendekatkan lokasi budidaya dengan pasar sehingga biaya transportasi dapat ditekan. “Dan saya berharap tiap provinsi saya ingin membangun satu titik di seluruh (wilayah -red) Indonesia untuk menekan biaya transportasi. Itu harapan kita ke depan,” ujarnya.

Melalui formula pakan dan percepatan masa panen, Haji Aan berharap budidaya lele dapat menjadi usaha yang lebih efisien dan membuka peluang bagi peternak lain. Inovasi tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi perikanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *