Cegah Bahaya Fatal di Pelabuhan, KPLP Gembleng SDM Pengangkut Barang Berbahaya

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP), Triono

ABNnews – Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP), Triono, menggembleng kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam penanganan barang berbahaya (dangerous goods) demi mencegah risiko kecelakaan fatal serta memperkuat keselamatan pelayaran di seluruh pelabuhan Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan Triono saat resmi menutup kegiatan Diklat Penanganan dan Pengangkutan Barang Berbahaya di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

“Diklat ini merupakan bagian penting dari upaya kita untuk meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan kesiapsiagaan sumber daya manusia dalam menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran, khususnya dalam penanganan dan pengangkutan barang berbahaya,” ujar Triono.

Ia menjelaskan bahwa dangerous goods memiliki karakteristik khusus dengan tingkat risiko ekstrem yang jauh berbeda dibandingkan muatan umum. Oleh karena itu, kecerobohan sekecil apa pun dalam proses distribusi bisa berakibat fatal.

“Kesalahan dalam mengidentifikasi, mengklasifikasikan, mengemas, hingga mengangkut barang berbahaya dapat menimbulkan risiko serius terhadap manusia, kapal, fasilitas pelabuhan, maupun lingkungan,” tegasnya.

Selama pelatihan, para peserta dibekali materi komprehensif terkait prosedur keamanan penanganan muatan berbahaya, termasuk penguasaan aturan International Maritime Dangerous Goods Code (IMDG Code) serta regulasi nasional yang berlaku.

“Pemahaman terhadap ketentuan internasional dan ketentuan nasional harus benar-benar diterapkan dalam pelaksanaan tugas di wilayah kerja masing-masing,” kata Triono.

Ia juga menginstruksikan seluruh lulusan diklat untuk bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) ketika kembali ke unit kerja di daerahnya masing-masing.

“Jadikan apa yang telah dipelajari sebagai pedoman dalam melaksanakan pengawasan, pemeriksaan, pelayanan, maupun pembinaan kepada para pengguna jasa transportasi laut,” lanjutnya.

Triono berharap pascadiklat ini, jumlah personel yang menguasai spesialisasi penanganan barang berbahaya dapat tersebar merata di seluruh wilayah perairan Nusantara. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat sistem pengawasan di lapangan.

“Dengan demikian, kita dapat memperkuat sistem pengawasan dan pengendalian, sekaligus meminimalkan potensi kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan dalam penanganan muatan berbahaya,” ungkapnya.

Menutup arahannya, Triono menyampaikan apresiasi mendalam kepada Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Laut (BP2TL), jajaran instruktur, serta seluruh panitia yang menyukseskan program pelatihan ini.

“Saya juga mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan rangkaian Diklat Penanganan dan Pengangkutan Barang Berbahaya dengan baik,” pungkas Triono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *