Minyak Nilam RI Laris Manis di Pasar Global, Ekspor Tembus 173 Juta Dolar AS

Ilustrasi. Petani menjemur daun nilam untuk diolah menjadi minyak nilam di Desa Sampaga, Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (15/12/2021). ANTARA FOTO/ Akbar Tado/rwa.

ABNnews – Produk minyak nilam (patchouli oil) asal Indonesia makin laris manis di pasar internasional.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat nilai ekspor minyak nilam Indonesia pada tahun 2025 berhasil menembus USD 173,4 juta (setara Rp 2,7 triliun), melonjak hingga 22,7 persen dibandingkan pencapaian tahun 2024 yang sebesar USD 141,3 juta.

Komoditas unggulan ini telah merambah pasar ke berbagai negara di dunia, mulai dari India, Singapura, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, Britania Raya, hingga Turki.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa minyak nilam memiliki basis produksi dan pasar ekspor yang sangat kuat, sehingga berpeluang besar untuk terus dikembangkan ke produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi.

Minyak nilam juga menjadi penyumbang utama dari total ekspor minyak atsiri Indonesia (kode HS 3301) yang pada tahun 2025 mencapai USD 348,7 juta, naik 34,4 persen ketimbang tahun sebelumnya. Capaian ini sekaligus mengokohkan Indonesia di posisi ke-5 sebagai eksportir minyak atsiri terbesar di dunia, berada di bawah India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil.

“Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk minyak atsiri Indonesia memiliki daya saing dan permintaan yang kuat di pasar global. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industrialisasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menjelaskan, potensi besar minyak nilam dapat terus dioptimalkan melalui teknologi pemurnian dan fraksinasi.

Langkah ini mampu mengolah minyak mentah menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti hi-grade patchouli, bahan fragrance, antiseptik, medicated oil, hingga aromaterapi.

“Dengan penguatan hilirisasi, pemanfaatan minyak nilam dapat diperluas, tidak hanya untuk pasar bahan baku, tetapi juga menjadi input bagi industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi,” kata Putu.

Putu menekankan pentingnya penguatan ekosistem industri atsiri secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Upaya ini melibatkan peningkatan kapasitas petani dan penyuling, penguatan koperasi, kepastian kualitas bahan baku, serta perluasan akses pembiayaan dan pasar.

“Penguatan industri atsiri membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku industri, petani, lembaga riset, perguruan tinggi, dan mitra pasar untuk membangun ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir,” ujar Putu.

Langkah hilirisasi dan diversifikasi produk ini dinilai membawa manfaat strategis, mulai dari meningkatkan nilai tambah komoditas, membuka peluang investasi, hingga memperkuat daya saing produk manufaktur Indonesia di kancah global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *