Opini  

Rezeki yang Menular

Catatan Cak AT

Senin dini hari itu, ketika sebagian besar Indonesia masih terlelap, tim sepakbola Spanyol dan Argentina menyelesaikan perjalanan panjang mereka di New York New Jersey Stadium. Pertandingan ke-104 sekaligus laga terakhir Piala Dunia 2026 itu berakhir dengan skor Spanyol 1 –0 Argentina.

Kini Spanyol menjadi juara dunia, sedangkan Argentina harus menerima tempat kedua. Spanyol membobol gawang Argentina di menit 106 oleh tendangan Ferran Torres, pada partai tambahan kedua.

Argentina bermain di luar harapan. Lionel Messi seolah terkunci. Bahkan seorang pemain mendapat kartu merah, menyisakan sepuluh pemain.

Kembang api menyala, konfeti berhamburan, dan sebuah pesta sepak bola yang berlangsung sejak 11 Juni pun resmi menjadi sejarah.

Tetapi ketika kapten Rodrigo Hernandez mengangkat trofi dan lampu stadion perlahan dipadamkan, ada satu pertandingan lain yang sesungguhnya belum selesai. Pertandingan itu tidak dimainkan sebelas lawan sebelas, tidak dipimpin wasit, dan tidak memiliki papan skor.

Pertandingan itu berlangsung di bandara, hotel, studio televisi, bursa iklan, perusahaan teknologi, pabrik jersey, restoran, kedai kopi, bahkan warung gorengan di sebuah kampung ribuan kilometer dari New Jersey. Media menamakannya: ekonomi Piala Dunia.

Orang sering mengira hadiah terbesar Piala Dunia adalah trofi emas yang diangkat kapten tim juara. Trofi itu memang bukan barang murah. Tingginya sekitar 36,8 sentimeter, mengandung hampir 11 pon emas 18 karat, dan menurut perhitungan LSEG yang dikutip _Forbes_, nilai emasnya saja sekitar US$713 ribu.

Namun, dibandingkan dengan sungai uang yang mengalir di sekeliling Piala Dunia, benda emas yang diperebutkan dengan keringat dan air mata itu nyaris seperti koin yang tercecer di bawah sofa.

Piala Dunia 2026 memang dirancang menjadi raksasa. Untuk pertama kalinya, 48 negara ikut serta, naik dari 32 peserta di Piala Dunia 2022. Sebanyak 104 pertandingan dimainkan di 16 kota dalam tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Format baru pertandingan membagi peserta ke dalam 12 grup, lalu 32 tim melaju ke fase gugur. Dua finalis harus bermain delapan kali untuk mencapai pertandingan terakhir, satu laga lebih banyak daripada format sebelumnya.

FIFA tidak sekadar memperbesar turnamen. Ia memperpanjang mesin produksi sepak bola: lebih banyak tim berarti lebih banyak pertandingan; lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak tiket, penerbangan, kamar hotel, hak siar, iklan, sponsor, makanan, transportasi, dan manusia yang membuka dompet.

Mesin itu bekerja luar biasa. Pada 25 Juni saja, ketika masih tersisa 48 pertandingan, jumlah penonton langsung sudah mencapai 3.605.357 orang, melampaui rekor sepanjang turnamen Piala Dunia 1994. Stadion ketika itu rata-rata terisi lebih dari 99 persen.

Menjelang akhir turnamen, angka kehadiran terus membubung hingga jutaan orang. Reuters mencatat tingkat keterisian pada fase awal mencapai sekitar 99,7 persen, meskipun harga tiket yang sangat tinggi sebelumnya dikhawatirkan akan membuat kursi-kursi kosong.

Rupanya, manusia tetap bersedia membayar mahal untuk satu pengalaman yang tidak dapat di- _replay_: mengatakan kepada anak cucunya, “Saya ada di sana.” Padahal mereka datang bukan hanya membawa bendera dan nasionalisme. Mereka juga membawa kartu kredit.

FIFA menyediakan total distribusi dana kepada 48 peserta sebesar US$871 juta. Juara memperoleh US$50 juta, sementara tim-tim lain mendapat bagian sesuai pencapaiannya, ditambah dana persiapan. Jumlah keseluruhan itu hampir dua kali lipat dibandingkan kumpulan hadiah Piala Dunia Qatar 2022 sebesar US$440 juta.

Dengan kurs rupiah pada akhir turnamen, US$871 juta bernilai sekitar Rp15 triliun lebih — angka pastinya tentu bergerak mengikuti kurs. Uang itu pun bukan langsung masuk ke rekening para pemain, melainkan dibayarkan kepada federasi sepak bola negara peserta.

Tetapi bahkan Rp15 triliun lebih itu hanyalah permukaan. Forbes mencatat sebuah paradoks yang menarik. Di antara para pemain yang datang ke Piala Dunia ini, terdapat dua orang yang secara finansial sebenarnya tidak perlu lagi mengejar apa pun: Cristiano Ronaldo, dengan estimasi kekayaan US$1,2 miliar, dan Lionel Messi sekitar US$1,1 miliar.

Namun, di luar lapangan, uang justru berlari lebih kencang dari Mbappé, sang jagoan gol. Harga tiket adalah pintu masuk paling kasatmata. Tiket pertandingan fase grup pada awalnya dipatok mulai sekitar US$575, lebih dari dua kali lipat tiket kategori termahal fase grup Qatar 2022.

Dengan sistem _dynamic pricing_, harga kemudian bergerak mengikuti permintaan. Untuk final, tiket premium resmi sempat mencapai sekitar US$32 ribu per kursi. Di pasar penjualan kembali, harga rata-rata menjelang final dilaporkan melampaui US$11 ribu.

Sepak bola yang lahir sebagai permainan rakyat akhirnya menemukan ironi kapitalismenya: semua orang boleh mencintainya, tetapi tidak semua orang mampu duduk dekat dengannya.

Bagi yang uangnya lebih tebal, masih ada kelas di atas kelas. Bahan yang dihimpun Forbes mencatat paket tempat duduk di sisi lapangan dapat dimulai dari US$1 juta untuk kelompok 12 orang. Suite untuk 24 orang mulai sekitar US$1,44 juta.

Bahkan kesempatan berada di lapangan ketika trofi diserahkan ditawarkan hingga US$600 ribu per orang. Kalau seseorang masih bertanya apakah sepak bola merupakan olahraga atau bisnis, mungkin jawabannya sederhana: tergantung ia menontonnya dari tribun mana.

Setelah membeli tiket, dompet belum boleh istirahat. Penonton harus naik pesawat, tidur di hotel, makan, minum, dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Forbes mencatat tarif hotel pada hari pertandingan dapat sekitar 50 persen lebih mahal.

Parkir di Los Angeles dilaporkan dapat mencapai US$300 untuk satu pertandingan. Segelas bir di sejumlah lokasi bisa berharga US$20 lebih. Bahkan perjalanan kereta pulang-pergi dari Penn Station, New York, menuju stadion di New Jersey disebut mencapai US$98.

Masih ada cara lain mengubah kegembiraan menjadi transaksi. Seorang penggemar dapat membayar sekitar US$79 plus pajak agar namanya muncul di layar video stadion melalui program _Super Shoutout_. Dahulu orang datang ke stadion untuk melihat pemain. Sekarang, kalau bersedia membayar, orang juga dapat membeli kesempatan agar stadion melihat dirinya.

Begitulah “industri perhatian” bekerja. Sebab komoditas paling berharga dalam Piala Dunia bukan sebenarnya bola, tiket, atau trofi. Yang diperdagangkan adalah perhatian manusia.

Pada Piala Dunia Qatar 2022, hampir 1,5 miliar orang menyaksikan final. Untuk 104 pertandingan Piala Dunia 2026, jangkauan global diperkirakan melampaui 5 miliar penonton secara kumulatif, sementara Bank of America memperkirakan pertandingan final dapat menyedot hingga 7 persen lalu lintas internet dunia.

Di Amerika Serikat saja, laga pembuka tuan rumah ditonton rata-rata sekitar 18 juta orang melalui Fox. Ini sebuah rekor untuk siaran berbahasa Inggris pertandingan sepak bola putra di negara itu pada saat angka tersebut dicatat.

Bayangkan miliaran pasang mata menatap peristiwa yang sama. Perhatian yang biasanya tercerai-berai antara TikTok, YouTube, Netflix, Instagram, gim, podcast, dan ribuan kanal televisi tiba-tiba berkumpul pada sebidang lapangan berukuran kira-kira 105 kali 68 meter. Bagi pengiklan, keadaan seperti itu lebih langka daripada emas yang menjadi bahan trofi Piala Dunia.

Itulah yang disebut _attention economy_ — ekonomi perhatian. Pertandingan memang dimainkan oleh 22 orang, tetapi produk komersial sebenarnya adalah perhatian miliaran manusia.

FIFA menjual hak siar. Televisi membeli hak itu lalu menjual perhatian penonton kepada pengiklan. Sponsor membeli asosiasi merek. Platform digital memperoleh lalu lintas. Operator telekomunikasi menjual data. Media memperoleh pembaca. Kreator konten mendapatkan _views_. Sebuah bola ditendang di New Jersey, jutaan mesin kasir berbunyi di seluruh dunia.

Di Indonesia, angka sekitar Rp1,3 triliun sempat ramai dibicarakan sebagai biaya hak siar yang dikaitkan dengan TVRI. Angka itu perlu ditempatkan secara tepat: menurut penjelasan TVRI yang beredar, nilai tersebut bukan semata-mata untuk Piala Dunia 2026.

Biaya itu mencakup paket hak siar beberapa kompetisi FIFA hingga 2027, termasuk Piala Dunia U-17 2026 dan Piala Dunia Wanita 2027. Namun, angka itu tetap memberi gambaran betapa mahalnya satu hak yang terdengar sederhana: hak untuk melihat orang lain menendang bola secara langsung dari ruang keluarga kita sendiri.

Bahkan ketika pemain berhenti bermain, mesin uang tidak ikut berhenti. Piala Dunia 2026 mengenal _hydration break_, jeda yang terutama diperlukan untuk melindungi pemain dari panas. Tetapi dalam industri televisi, ruang kosong tiga menit adalah lahan yang terlalu subur untuk dibiarkan tidak ditanami iklan.

Forbes mencatat spot iklan 30 detik selama pertandingan dapat bernilai sekitar US$200 ribu hingga US$750 ribu. Dari total waktu jeda sepanjang turnamen, potensi komersialnya diperkirakan mencapai ratusan juta dolar; estimasi konservatif yang disebut Forbes saja sedikitnya US$250 juta.

Pemain boleh berhenti untuk minum. Kapitalisme rupanya tidak pernah kehausan; ia justru menjual airnya.

Angka itu menjadi semakin menarik bila dibandingkan dengan nilai hak siar. Forbes menyebut Fox dilaporkan membayar sekitar US$485 juta untuk hak turnamen. Artinya, secara teoretis, sebagian besar biaya hak siar itu dapat ditutup hanya dari sebuah ruang komersial yang bahkan tidak ada dalam inti permainan: jeda minum.

Dari sinilah kita memahami mengapa Piala Dunia telah berkembang menjadi salah satu mesin bisnis olahraga terbesar di planet ini. FIFA menganggarkan sekitar US$3,8 miliar untuk penyelenggaraan turnamen ini. Di dalamnya terdapat biaya operasional sekitar US$1,1 miliar, termasuk transportasi kegiatan dan layanan perangkat pertandingan.

Pada sisi pemasukan, proyeksi FIFA untuk siklus empat tahunan yang berakhir dengan Piala Dunia 2026 mencapai sekitar US$13 miliar, dengan porsi sangat besar berasal dari hak penyiaran, tiket, dan _hospitality_.

Bandingkan dengan siklus Piala Dunia Qatar 2022 yang menghasilkan rekor pendapatan sekitar US$7,6 miliar. Bola yang dipakai tetap bulat. Gawangnya tetap dua. Pemainnya tetap sebelas melawan sebelas. Tetapi mesin bisnis yang mengelilinginya tumbuh seperti kota yang tidak pernah selesai membangun gedung.

Uang itu juga mengalir kembali ke tempat asal para pemain. FIFA menyediakan sekitar US$250 juta melalui _Club Benefits Programme_ untuk klub-klub yang pemainnya tampil di Piala Dunia, dengan pembayaran yang diperkirakan setidaknya sekitar US$5 ribu per pemain per hari.

Bahkan klub yang melepas pemain ke tim nasional ikut memperoleh bagian dari pesta. Sebab, dalam ekonomi sepak bola modern, kaki pemain memang hanya sepasang, tetapi hak ekonomi atas jasanya dapat memiliki banyak pintu.

Namun, tidak semua uang yang berputar adalah keuntungan. Di sinilah kita perlu berhati-hati dengan istilah “dampak ekonomi”.

Setiap kali sebuah kota hendak menjadi tuan rumah pesta olahraga besar, biasanya muncul presentasi yang sangat menggembirakan. Hotel akan penuh. Wisatawan datang. Restoran ramai. Lapangan kerja tercipta. Angka-angka berbaris rapi dalam PowerPoint seperti pasukan yang siap memenangkan perang.

Yang jarang muncul di halaman pertama adalah tagihannya. Forbes mencatat pemerintah federal Amerika Serikat menyalurkan sekitar US$221 juta kepada kota dan negara bagian penyelenggara untuk membantu menghadapi ancaman drone.

Dana sekitar US$625 juta lainnya dialokasikan untuk memperkuat persiapan keamanan dan keamanan siber. Pada dua pekan pertama turnamen saja, lebih dari 300 drone dilaporkan disita di sekitar lokasi Piala Dunia.

Pemerintah lokal pun harus membuka dompet. Menurut angka yang dikutip Forbes, kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat dapat menanggung biaya hingga US$100 juta lebih untuk mengakomodasi turnamen.

Kansas City, misalnya, mengalokasikan US$25,8 juta uang pembayar pajak untuk fasilitas penahanan sementara guna mengantisipasi pengunjung bermasalah, sementara Jackson County mengalokasikan US$42,5 juta dana negara bagian untuk renovasi stadion.

Ada pula pendapatan yang sengaja tidak dipungut. Analisis yang dikutip Forbes memperkirakan Florida, Georgia, dan Missouri melepaskan potensi penerimaan pajak penjualan tiket sekitar US$57,8 juta melalui berbagai pembebasan yang diberikan dalam rangka menjadi tuan rumah.

Maka, menghitung ekonomi Piala Dunia hanya dari berapa banyak uang yang berputar sama kelirunya dengan menentukan pemenang pertandingan hanya dari berapa kali sebuah tim menendang bola.

Yang penting bukan sekadar berapa banyak uang bergerak, melainkan dari kantong siapa ia keluar, ke kantong siapa ia masuk, dan berapa banyak yang tertinggal setelah pesta selesai.

Ada satu contoh kecil yang hampir jenaka. Stadion tempat final berlangsung sehari-hari dikenal sebagai MetLife Stadium. Forbes memperkirakan perusahaan asuransi MetLife membayar sekitar US$19 juta setahun untuk hak penamaan stadion itu sebagai bagian dari kontrak jangka panjang.

Tetapi selama Piala Dunia, karena aturan komersial FIFA, nama sponsor stadion disingkirkan dan tempat itu disebut New York New Jersey Stadium. Bayangkan. Anda membayar jutaan dolar agar nama perusahaan terpampang di sebuah stadion. Ketika pertandingan paling banyak ditonton manusia datang ke stadion itu, nama Anda justru ditutup.

Dalam sepak bola, rupanya bukan hanya pemain yang bisa terkena _offside_. Sponsor pun bisa.

Ada lagi sungai uang yang mengalir lebih gelap: taruhan. Forbes mencatat volume perdagangan terkait Piala Dunia pada platform pasar prediksi Kalshi dan Polymarket mencapai sekitar US$5,4 miliar hanya dalam pekan pertama turnamen.

Volume Kalshi sepanjang Piala Dunia kemudian disebut mencapai angka jauh lebih besar, sementara sebuah firma riset sebelumnya memproyeksikan sekitar US$4,4 miliar akan dipertaruhkan melalui _sportsbook_ daring di Amerika Serikat selama turnamen, naik dari sekitar US$1,8 miliar pada 2022.

Angka-angka ini harus dibaca hati-hati. Uang taruhan bukan otomatis penciptaan nilai ekonomi baru. Sering kali ia hanya memindahkan uang dari kantong yang kalah ke kantong yang menang — dan selalu menyisakan bagian bagi penyelenggara.

Di balik kegembiraan menebak skor, ada pula risiko kecanduan dan kerugian rumah tangga yang tidak pernah tampil dalam iklan. Ekonomi memang bergerak, tetapi tidak semua yang bergerak membawa kesejahteraan.

Dan di sinilah kita sampai pada ekonomi Piala Dunia yang paling menarik. Saya menyebutnya ekonomi yang tak pernah masuk neraca. Tidak ada laporan tahunan FIFA yang mencatat berapa tambahan omzet warung kopi di Surabaya karena Argentina bermain pukul dua dini hari.

Tidak ada statistik turnamen yang menghitung berapa bungkus mi instan direbus menjelang _kick-off_ di Jakarta, berapa liter kopi diseduh di Makassar, berapa piring nasi goreng dipesan di Bandung, atau berapa bakwan habis di sebuah acara nobar di kampung.

Tidak ada tabel FIFA yang mencatat penyewaan proyektor, layar, pengeras suara, kursi plastik, tenda, dan genset. Tidak dihitung berapa tukang parkir memperoleh tambahan penghasilan.

Tak ada catatan berapa pengemudi ojek mengantar orang pulang setelah adu penalti. Berapa penjual jersey mendapat pembeli. Berapa paket data internet terjual. Berapa kreator konten memperoleh jutaan _views_ dari membicarakan satu gol.

Di Indonesia, aliran rezeki itu bahkan dapat dihitung hingga ke warung-warung kecil. Survei Lokadata mencatat 78,1 persen masyarakat Indonesia mengikuti nobar setidaknya sekali selama Piala Dunia, dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp51 ribu per orang untuk sekali nobar.

Kajian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan aktivitas tersebut menggerakkan uang hingga Rp5,03 triliun, dengan sekitar Rp2,4 triliun di antaranya dinikmati sektor hotel, restoran, dan kafe.

Jejaknya terlihat sampai ke daerah. Di antaranya: 221 titik nobar resmi di Nusa Tenggara Timur, lebih dari 120 titik di Bengkulu, sementara nobar TVRI Sumatera Selatan yang semula melibatkan 18 UMKM bertambah menjadi 29 UMKM menjelang final.

Angka-angka itu memberi wajah konkret pada apa yang disebut ekonom sebagai _multiplier effect_, efek pengganda: Messi atau Yamal menggiring bola di New Jersey, tetapi beberapa detik kemudian kopi dituang, bakso dipesan, sate dibakar, dan gorengan habis di Indonesia.

Kita memang belum mencetak gol di Piala Dunia, tetapi setidaknya kali ini banyak UMKM ikut mencetak omzet. Satu dolar yang dibelanjakan seorang penonton tidak mati setelah berpindah tangan.

Uang tiket menjadi gaji petugas stadion. Gaji itu dibelanjakan di restoran. Restoran membeli ayam dari pemasok. Pemasok membayar peternak. Peternak membeli pakan. Produsen pakan menggaji pekerja. Pekerja membeli beras.

Uang terus berpindah seperti bola dari kaki ke kaki. Saya lebih suka menyebutnya dengan bahasa warung kopi: “rezeki yang menular”.

Sebuah gol di New Jersey ternyata dapat membuat sebuah kafe di Jakarta mendadak riuh. Sebuah penalti membuat orang memesan kopi kedua karena pertandingan diperpanjang tiga puluh menit. Adu penalti mungkin berarti tambahan sepiring pisang goreng.

Dalam ilmu ekonomi, itu disebut peningkatan konsumsi rumah tangga. Bagi pemilik warung, penjelasannya lebih sederhana: dagangan habis karena kiper gagal menangkap bola.

Rantai nilainya membentang luar biasa panjang. Dari pabrik sepatu dan jersey di Asia, maskapai penerbangan lintas benua, jaringan hotel Amerika, perusahaan teknologi global, studio televisi, operator telekomunikasi, sampai pedagang kacang di pinggir jalan Indonesia.

Mereka tidak saling mengenal. Tidak pernah mengadakan rapat koordinasi. Tidak memiliki grup WhatsApp. Tetapi semuanya terhubung oleh satu benda bulat berdiameter sekitar 22 sentimeter.

Itulah sebabnya Piala Dunia sesungguhnya bukan hanya industri sepak bola. Ia adalah industri perhatian, industri perjalanan, industri hiburan, industri media, industri tekstil, industri makanan, industri teknologi, bahkan industri kenangan.

Orang membayar bukan sekadar untuk melihat pertandingan. Mereka membayar untuk mengalami sesuatu, merekamnya, menceritakannya, dan suatu hari berkata: “saya pernah berada di sana.”

Lalu di manakah Indonesia dalam rantai panjang itu? Kita memang belum bermain di Piala Dunia 2026. Tetapi jangan salah: uang Indonesia sudah ikut bertanding.

Kita membayar hak siar. Kita membeli televisi dan paket data. Kita membeli jersey. Kita mengonsumsi iklan. Kita membuat acara nobar. Kita memesan makanan. Kita menulis berita. Kita membuat konten. Kita menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan Messi, Mbappé, Spanyol, Argentina, Inggris, dan Perancis.

Artinya, kita sudah menjadi bagian dari ekonomi Piala Dunia. Pertanyaannya: bagian yang mana? Apakah kita hanya berada di ujung rantai sebagai konsumen? Apakah tugas kita hanya menonton produk yang diciptakan orang lain, membeli jersey yang mereknya dimiliki orang lain, membayar hak siar kepada pemilik hak di luar negeri, dan memberikan perhatian yang kemudian dimonetisasi perusahaan global?

Indonesia memiliki lebih dari 280 juta penduduk, basis penggemar sepak bola yang luar biasa besar, industri tekstil, ekonomi digital, sektor pariwisata, industri kreatif, dan puluhan juta usaha mikro dan kecil. Mestinya olahraga tidak lagi dipandang sekadar urusan medali, klasemen, dan apakah tim nasional lolos atau tidak.

Olahraga adalah ekosistem ekonomi. Ada industri perlengkapan olahraga, akademi pemain, _sports science_, manajemen klub, penyiaran, produksi konten, teknologi pertandingan, analitik data, pariwisata olahraga, _merchandising_, pengelolaan stadion, industri makanan, transportasi, dan ekonomi komunitas.

Kita tidak harus menunggu Indonesia masuk final Piala Dunia untuk membangun semua itu. Yang diperlukan adalah liga domestik yang sehat dan dipercaya, klub yang dikelola profesional, stadion yang hidup bukan hanya ketika ada pertandingan besar.

Kita juga perlu industri _merchandise_ resmi yang memberi nilai tambah kepada klub, akademi yang terhubung dengan pendidikan, _sports science_ yang serius, data dan teknologi olahraga yang dikembangkan sendiri, serta UMKM yang secara sadar dimasukkan ke dalam rantai ekonomi pertandingan.

Sebab pelajaran Piala Dunia 2026 sangat sederhana: yang bermain memang 22 orang, tetapi yang dapat memperoleh rezeki bisa berjuta-juta orang.

Senin dini hari itu, setelah Spanyol mengalahkan Argentina dengan skor 1:0, dunia akhirnya mengetahui siapa juara Piala Dunia 2026. FIFA menyerahkan trofi yang emasnya bernilai sekitar US$713 ribu. Sang juara memperoleh hadiah prestasi US$50 juta.

Masih di lapangan, para pemain berfoto. Konfeti turun. Jutaan telepon genggam mengabadikan momen itu. Beberapa jam kemudian stadion mulai kosong. Tetapi uang yang digerakkan oleh turnamen itu belum berhenti berjalan.

Ia berpindah dari FIFA ke federasi, dari televisi ke pemegang hak, dari sponsor ke media, dari wisatawan ke hotel, dari penumpang ke maskapai, dari penonton ke restoran, dari pelanggan ke operator internet, dari orang yang nobar ke warung kopi.

Sebagian tercatat dalam laporan keuangan miliaran dolar. Sebagian lagi hanya masuk ke sebuah kaleng kecil di samping gerobak gorengan sebagai beberapa lembar uang tambahan.

Yang pertama disebut pendapatan. Yang kedua mungkin tidak pernah masuk statistik. Tetapi bagi seseorang yang malam itu membawanya pulang untuk membeli beras dan susu anaknya, namanya jauh lebih sederhana: rezeki yang menular.

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 20/7/2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *