ABNnews — PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta berhasil mengangkut sebanyak 71.860 ton peti kemas, mayoritas berupa baja gulungan (steel coil), melalui relasi Krenceng–Pasoso–Kalimas sepanjang semester I-2026 guna menopang kelancaran rantai pasok industri di Pulau Jawa.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menyampaikan bahwa distribusi logistik berbasis rel ini menjadi andalan sektor industri karena memiliki kepastian jadwal serta bebas dari kendala kemacetan jalan raya.
“Melalui layanan angkutan peti kemas dari Krenceng, KAI Daop 1 Jakarta mendukung kelancaran distribusi barang dari Banten menggunakan moda transportasi yang memiliki kepastian jadwal perjalanan dan tidak terpengaruh kemacetan jalan raya,” ujar Franoto dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Layanan angkutan barang strategis ini diberangkatkan dari Stasiun Krenceng, Kota Cilegon, Provinsi Banten, dengan frekuensi perjalanan eksisting setiap dua hari sekali.
Meskipun mencatatkan volume yang cukup besar, realisasi angkutan peti kemas pada semester I-2026 tercatat mengalami penurunan sebesar 4.738 ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagai pembanding, pada semester I-2025 volume angkutan peti kemas di relasi tersebut mampu menembus 76.598 ton.
Secara terperinci, tren volume angkutan peti kemas bulanan sepanjang tahun 2026 memperlihatkan grafik yang terus menanjak menuju pertengahan tahun:
* Januari: 10.634 ton
* Februari: 7.292 ton
* Maret: 9.831 ton
* April: 11.843 ton
* Mei: 15.964 ton
* Juni: 16.296 ton (pencapaian tertinggi)
Franoto menegaskan, penggunaan moda kereta api untuk pengiriman barang dalam kapasitas besar sejalan dengan agenda prioritas pemerintah dalam menekan keberadaan kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) di jalan raya.
Oleh karena itu, KAI mengajak para pelaku industri dan perusahaan logistik nasional untuk makin mengoptimalkan angkutan barang berbasis rel. Selain berkapasitas sangat besar, moda rel terbukti memberikan jaminan keamanan, ketepatan waktu, dan efisiensi biaya.
“Dengan beralih ke angkutan rel, distribusi logistik dapat berlangsung lebih efisien sekaligus mendukung keselamatan transportasi nasional,” tutup Franoto.












