ABNnews – Dampak kerusakan akibat gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) dilaporkan kian meluas.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat kerusakan masif terjadi di Kabupaten Sigi dengan total lebih dari 2.300 unit rumah rusak serta menelan 3 korban jiwa, disusul ratusan warga terdampak lainnya di Kabupaten Parigi Moutong.
Berdasarkan laporan teranyar dari BPBD Kabupaten Sigi hingga Sabtu (20/6), jumlah rumah yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa di daerah tersebut kini telah menyentuh angka fantastis, yakni sebanyak 2.335 unit. Rinciannya terdiri dari rusak ringan sebanyak 1.955 unit, rusak sedang 226 unit, dan rusak berat mencapai 154 unit.
Tak hanya merusak ribuan bangunan, bencana ini juga memakan korban jiwa dan luka-luka. Total korban dan warga terdampak di Sigi mencapai 8.586 jiwa dari 2.775 Kepala Keluarga (KK).
Dari jumlah tersebut, tercatat 17 orang mengalami luka berat, 108 orang luka ringan, serta tiga orang warga dilaporkan meninggal dunia.
Sementara itu, dampak kerugian material dan warga terdampak juga dilaporkan terjadi di wilayah tetangga, Kabupaten Parigi Moutong. Sebanyak 285 jiwa atau 91 KK di daerah tersebut dipastikan ikut terdampak guncangan gempa bermagnitudo 6,7 (sebelumnya tercatat M 7,6) yang terjadi pada Selasa (16/6) lalu.
“285 jiwa terdampak bencana tersebar di 19 desa tujuh kecamatan,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, dikutip dari antara, Minggu (21/6/2026).
Rivai menjelaskan bahwa seluruh data hasil asesmen lapangan tersebut akan segera dikunci untuk kemudian dilaporkan ke BPBD Provinsi Sulawesi Tengah guna penanganan serta koordinasi logistik lanjutan.
Di Parigi Moutong, efek kerusakan infrastruktur tercatat merusak 87 rumah warga (83 rusak ringan, 3 rusak sedang, dan 1 rusak berat). Selain itu, kerusakan juga berimbas pada 2 kantor pemerintahan, masing-masing 1 unit masjid, gereja, sekolah, serta dua unit pura.
“Fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan sebanyak 5 unit, dengan rincian 3 bangunan rusak ringan dan 2 bangunan lainnya rusak sedang,” tambah Rivai.
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong sendiri telah menetapkan masa tanggap darurat yang berlaku sejak 17 hingga 23 Juni 2026. Langkah-langkah percepatan berupa penyaluran logistik pangan dan kebutuhan darurat pun terus dikebut.
“Bantuan sudah kami salurkan semua kepada korban gempa sebanyak 100 paket, 25 paket di antaranya dari BPBD dan 75 paket dari Dinas Sosial. Bantuan itu diberikan guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat,” pungkas Rivai.
Untuk mengoptimalkan pelayanan medis bagi para korban luka, Pemkab Parigi Moutong memutuskan tidak mendirikan posko kesehatan darurat khusus, melainkan memaksimalkan peran dan fasilitas Puskesmas setempat yang berada di sekitar wilayah terdampak bencana.












